Selama Janur Kuning Belum Melengkung, Berilah Jalan untuk Penikung

besoksenin.co – Tikung menikung dalam sebuah hubungan ibarat politik, tidak pernah usai untuk diperdebatkan. Bukan menikung istri atau suami orang tapi loh yaa, konteksnya masih dalam tahap pacaran.

Para penikung menunggu waktu yang tepat

Para penikung menunggu waktu yang tepat via pexels

Lamanya usia pacaran tidak menjamin bahwa pasangan akan bersanding di pelaminan. Memprediksi jodoh kadang sama seperti menebak-nebak skor akhir pertandingan sepakbola. Tim yang memimpin lebih dahulu, belum tentu dia pemenangnya. Kadang, ada kejutan yamg tidak diduga sehingga mempengaruhi hasil pertandingan.

Tahun lalu, sempat viral kisah Senna, seorang taruna Akpol yang menjalin hubungan dengan Selma selama enam tahun. Bak Epic comeback dalam game ML, Senna tidak mengira pasangannya menerima lamaran Haqy, anak Amien Rais. Hal ini menimbulkan pro kontra, ada yang memberi tanggapan positif, ada yang negatif, ada yang mencaci, ada yang memberi dukungan, yah namanya netizen ada-ada aja.

Dalam sudut pandang Selma, keputusan yang dia buat tentu tidak mudah. Melepas orang yang sudah dia temani selama enam tahun terakhir, lalu hidup dengan orang lain. Tapi itulah hidup, harus memilih dengan menerima segala resikonya.

baca juga : Kamu Tak Pernah Berjuang Sendiri! Kita Pergi ke Tujuan yang Sama, meskipun di Arena Berbeda

Dalam kasus serupa, tidak sedikit yang merasa tidak kunjung menemukan tujuan padahal sudah pacaran sejak lama. Jika sudah menginjak umur 20-an, menjalin sebuah hubungan berarti merencanakan masa depan. Ada yang lebih penting dari materi, apalagi paras. siap untuk hidup bersama berarti harus menyamakan isi kepala. Mencari jalan tengah ketika pendapat berbeda, selalu mendukung satu sama lain untuk saling menguatkan, dan siap untuk mengarungi lautan ketika layar sudah terkembang untuk mencapai tujuan.

Jika sudah menginjak umur 20-an, menjalin sebuah hubungan berarti merencanakan masa depan. Ada yang lebih penting dari materi, apalagi paras. siap untuk hidup bersama berarti harus menyamakan isi kepala.

Tidak menutup kemungkinan jika si Dia yang selama ini selalu menemani, perlahan mulai berubah. Entah masalah orang ketiga, hingga rasa yang tidak seperti pertama berjumpa. Atau, kamu mulai merasa orang yang kamu percaya sebagai satu2nya tempat berbagi kisah hidup, memiliki visi misi yang berbeda dengan apa yang kamu canangkan. Perihal menetap di mana setelah menikah, salah satunya. Keinginanmu yang ingin menetap dekat orangtua, berbenturan dengan keinginannya yang ingin hidup di ibu kota, misalnya.

Dalam situasi seperti ini, tentu kamu akan kebingungan. Pilihannya hanya dua, mengambil resiko untuk meninggalkan dia yang sudah menemanimu sejak lama, atau mempertahankan hubungan yang sudah kehilangan nilainya. Banyak pasangan yang sudah bertahun2 menghadapi dilema seperti ini.

Mungkin, kamu akan berharap di posisi Selma; datang seorang sosok yang membawa perubahan baru. Ibarat Ole Gunnar Solksjaer ketika menjadi pemain pengganti sekaligus pahlawan MU saat Final Champions melawan Munchen tahun 1999. Dia merubah ketertinggalan MU menjadi kemenangan melalui gol yang dicetaknya menit akhir. Kamu butuh sosok seperti Ole Gunnar Solksjaer yang mampu mengubah kesedihan menjadi kebahagiaan.

Terkadang, lamanya pacaran membuatmu sulit melepaskan. Padahal, jika pembicaraan sudah tidak lagi berbobot, pertemuan tidak lagi berkualitas, kamu bukan lagi prioritas, dan harapanmu di masa depan tidak sejalan, apalagi yang harus dipertahankan? Jika alasannya cinta, aku punya sedikit analogi.

Membangun rumah tangga ibarat mendirikan sebuah bangunan. Cinta adalah semen yang mampu menyatukan bata dan pasir untuk mendirikan rumah tangga. Namun, kenyamanan, kesamaan merencanakan masa depan ibarat bata dan pasir. Apa yang mampu dilakukan Semen jika tidak ada bata dan pasir?

Usia pacaran yang lama tidak selalu berbanding lurus dengan kualitas sebuah hubungan. Bila memang dirasakan sudah tidak menemukan kecocokan, lebih baik hentikan. Ketika datang penikung handal yang masuk dalam hidupmu dengan menawarkan kenyaman, tantangan baru, dan visi misi yang sejalan, jangan ragu untuk memberikannya jalan. Karena jodoh belum tentu orang yang sudah lama denganmu menjalin hubungan, bisa jadi dia adalah penikung yang saat ini belum kamu bukakan jalan.

Selama janur kuning belum melengkung gas terus

Selama janur kuning belum melengkung gas terus via @florizt

Selama janur kuning belum melengkung, berilah jalan untuk penikung. Barangkali, dia yang akan menjadi pelengkapmu di kemudian hari, menemani hidupmu hingga matahari tidak bersinar lagi.

Facebook Comments