Sisi Lain Eks Pabrik Gula Jatiwangi, dan Kenangan Masa Kecil yang Hilang

Eks Pabrik Gula Jatiwangi via Pramudya Gilang Prawira

Beberapa tahun lalu Jatiwangi sempat gegar, ada satu pohon di tengah-tengah eks pabrik gula Jatiwangi menolak ditebang. Menurut cerita yang tersebar dari mulut ke mulut, gergaji mesin patah, atau segala alat untuk merobohkan pohon tersebut mendadak tidak berfungsi. Entah benar atau tidak, di dalam pandangan kami, Pohon tersebut adalah teman, kenangan, dan bagian dari masa kecil yang indah.

Pohon itu adalah tempat tersangkutnya layang-layang sehingga sering kami lempari. Tempat istirahat apabila capek bermain bola. Tak jarang juga, kami buang air kecil di sana, sebab terlalu jauh jika memilih lari ke rumah.

Bukan tidak setuju kalau pohon itu angker, bisa saja si penunggu memang tidak mau menyakiti kami, karena sering berlari-lari di sana, mengitarinya, mendengar tawa-tawa, membuat segala kenangan dengan si pohon sedari kami kecil. Bisa jadi, pohon tersebut juga menganggap kami temannya. Atau bisa juga, karena dia tahu hati tulus seorang anak kecil, yang menanggap eks pabrik gula Jatiwangi termasuk dirinya sebagai surga tempat bermain.

Oh ya, kami adalah sekelompok anak yang tinggal di Jln. Mawar. Sebuah pemukiman warga yang paling dekat dengan eks pabrik gula Jatiwangi (kami sering menyebutnya dengan hanya istilah ‘Pabrik’). Nyaris setiap hari kami bermain di pabrik, apa saja yang kami temukan?

Lambang keberanian

Bagi kami, eks pabrik gula Jatiwangi adalah lambang keberanian via Pixabay

Tahun 2000-an; sebelum era kami. Eks pabrik gula Jatiwangi masih ada yang disebut keamanan pabrik atau yang sering disingkat KP, ketika Pabrik masih ditanami tebu. Warga yang masuk area Pabrik, sering dikejar-kejar KP karena dianggap pencuri tebu. Di generasi kami KP memang sudah tidak ada, namun rerimbunan tanaman liar, gedung-gedung tua khas kolinial masih kokoh. Rumor horor tentang eks pabrik gula Jatiwangi seakan mendapat dukungan dari kondisi tempatnya. Maka bisa masuk, meloncati pagar tetap menjadi lambang keberanian bagi kami yang saat itu bahkan belum masuk SD.

Angker

Tentang pabrik yang dianggap angker via Pixabay

Kami satu-persatu mulai sekolah, berjumpa dengan anak lain yang tinggal di luar Jln. Mawar, mereka kerap bergunjing tentang kemistisan Pabrik, tentang hantu-hantu yang tinggal di sana, atau penampakan mereka. Apalagi pada tahun 2002, sebuah acara televisi nasional ‘Gentayangan’ menjadikan pabrik sebagai lokasi uji nyali. Tentu saja langsung menjadi buah bibir di kalangan masyarakat Jatiwangi, teman-teman pun menanyakan perihal ada apa saja di Pabrik kepada kami, apa ada hantu atau tidak. “Tidak ada apa-apa,” jawab kami, memang, sampai saat itu kami tidak pernah berjumpa dengan apa yang disebut ‘hantu’ di Pabrik.

Berbahaya

Angkernya Pabrik dari dahulu memang sudah nyaring, tetapi ancaman yang bisa kami jumpai di sana bukan kerasukan, bukan mati satu-per-satu layaknya di film horror.

Ada sungai kecil yang memisahkan antara Pabrik dan pemukiman, jembatan kadang gagal kami temukan, sehingga kadang harus meloncat, dan tak jarang bagitu mendarat beling menancap. Memang lokasi sungai juga banyak dijadikan tempat sampah limbah rumah tangga, tidak heran kalau kaki kami tertusuk pecahan gelas. Di dalam Pabrik masih banyak tanaman liar; salah satunya adalah yang kami menyebutnya riut, apabila kami menggunakan celana pendek maka riut itu menempel dan menusuk betis kami. Bahaya lain adalah bangunan yang tua dan terlihat sangat rapuh, bisa runtuh kapan saja.

Tempat berburu dan bermain layang-layang

Dahulu langit Jatiwangi selalu penuh dengan layang-layang via Pixabay

Tahun 2000-2007 main layang-layang masih sangat ramai, pengaruh belum merebaknya gadget atau game. Ketika angin besar dan musim layangan tiba, maka semuanya bermain layang-layang. Di musim layangan, nyaris keseluruhan anak desa lain bermain juga, membuat langit Jatiwangi penuh sekali layangan. Maka ketika layang-layang kita saling beradu, dan putus, sering sekali jatuh melayang ke arah Pabrik. Kami mengejar, tidak peduli apa pun, yang penting dapat layangan. Seperti yang sudah disinggung; beling, benteng, riut, tembok dan banguan tua adalah rintangan. Sekitar tahun 2005 wacana tentang pemanfaatan lahan mulai dicanangkan, meskipun saat itu belum jelas lahan pabrik akan digunakan sebagai apa: komplek perumahan, mall, atau stadium, tapi penghancuran bangunan sudah mulai dilakukan. Membuat arena ini menjadi lebih terbuka dan kami pun bisa leluasa menerbangkan layangan. Awalnya, kami bahagia.

Tempat bermain bola

Tempat bermain bola untuk kami via Pixabay

Sebetulnya ada alun-alun Jatiwangi, tetapi di sana kerapkali kami tidak kebagian lahan oleh anak dari daerah lain, kadang-kadang juga lapangan itu ada pertandingan. Jadi, Pabrik adalah pilihan yang cocok untuk bermain bola. Berbagai lokasi di area Pabrik, sudah pernah kami jadikan lapangan. Mulai dari jalan di tengah, lokasi bekas bangunan, sampai di lapangan tenis yang mungkin dahulunya adalah tempat main Penjajah. Belum lenyap di ingatan, saat kami suka-cita diperjalanan menuju Pabrik dengan saling mengoper bola, nyanyi-nyanyi. Pabrik tetap kami gunakan sebagai tempat bermain bola hingga kami beranjak SMA. Terlepas dari bola, sore demi sore di Pabrik penuh keramaian dan tawa anak kecil, ada yang bersepeda, hingga sekadar duduk mencari angin.

Pabrik diruntuhkan

Saat peleburan Pabrik, kami juga ikut meruntuhkan bangunan-bangunan tua tersebut. Kami membantu para laki-laki dewasa membawa bata-bata sisa reruntuhan untuk diangkut ke mobil pick up.  Bata-bata yang lebih besar dari bata ukuran modern itu, selanjutnya kami pakai untuk membuat jalan di gang-gang di jalan mawar. Dari sejak saat itu, saya mulai berbicara kepada diri sendiri “Apa semuanya sudah berakhir? Apa masa bermain kami bersama Pabrik sudah berakhir?” Nyatanya sejak penghancuran Pabrik, beberapa tahun kami masih bisa bermain di sana, pembangunan yang molor, mungkin karena pemerintah belum ada uang untuk menggarap lokasi sebesar itu.

Barulah sekitar tahun 2011, konsep Jatiwangi Town Square dilempar ke publik. Sebuah kawasan komersial, mall, yang diintegrasikan dengan Hotel dan Rumah Sakit diterangkan. Pembangunan mulai digenjot, lahan mulai diratakan, benteng di perbatasan dengan Jl. Mawar dikokoh dan ditinggikan, bangunan mulai dibangun, jalan juga sudah bisa dioperasikan. Sekarang pembangunan tersebut bisa semua orang lihat setiap melintasi Jatiwangi.

Ada bangga, bahagia, tentu saja sedih. Beberapa waktu lalu, saya yang sudah pindah rumah, melewati Jatiwangi, saat sampai di kawasan JTS hujan tiba-tiba deras, memaksa saya memarkir sepeda motor di pertokoan yang beberapa sudah mulai beroperasi. Di tempat ini, saya melihat lagi kami kecil yang sedang asyik berlarian, bermain bola, mengejar layangan. Sayup-sayup diantara bunyi guyur hujan, terdengar percakapan-percakapan kami saat bermimpi menjadi dewasa, tawa-tawa kami yang renyah, semua sudah lebur, hilang ditelan waktu.

Terimakasih sudah menjadi bagian dari masa kecil, dan mendidik kami menjadi para pemberani, wahai eks pabrik gula Jatiwangi. (Tommi Pringadi)

Facebook Comments

Post Author: Tommi Pringadi

Seorang jomblo profesional yang bercita-cita bikin sunatan massal. I am not player, i am the game. :))

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.