Sungguh, Aku Tak Perlu Ucapan dan Janjimu. Aku Butuh Pembuktianmu

besoksenin.co – Untuk kamu lelaki yang pandai menggores luka, izinkan aku mengungkap hal yang membelenggu jiwaku setelah kau pergi bersamanya. Aku masih ingat, dulu kamu bilang akan selalu mencintaiku bagaimanapun aku. Lalu, kamu berjanji akan selalu setia denganku. Aku tahu kamu memang mencintai aku bagaimanapun diriku ini. Tapi mengapa kamu mengingkari janjimu untuk setia denganku? Kamu lebih memilih bersamanya. Kamu lebih memilih ingkar janji.

Janji via pexels

Sadarkah kamu—lelaki yang pernah menjadi bagian dari hidupku—bahwa aku sungguh kecewa. Tapi, kamu selalu menganggapku baik-baik saja. Aku tak tahu harus menyampaikan ini dengan cara yang bagaimana lagi padamu. Dikhianati berulang kali. Kamu yang cukup pintar menyembunyikan atau aku yang terlalu percaya padamu?

Baca juga: Kamu Tak Pernah Berjuang Sendiri! Kita Pergi ke Tujuan yang Sama, meskipun di Arena Berbeda

Aku masih ingat, dulu kamu bilang akan selalu menjagaku. Tapi, kamu lebih menjaga perasaannya daripada aku. Padahal kamu pun tahu, aku selalu ada untukmu setiap kamu membutuhkanku. Lalu, masih kuingat jelas semua kata dan janji yang kamu ucapkan seolah kamu adalah jawaban dari penantianku selama ini. Kamu pun tahu, bukan? Bahwa sudah takdir seorang wanita adalah menunggu untuk dipilih.

Aku adalah wanita via pexels

Untuk kamu yang pernah mengajari aku arti kesabaran dalam mencintai, aku ingin berkata padamu bahwa aku—dan beberapa perempuan lain—tidak perlu hanya sekadar ucapan dan janji yang terlontar begitu saja. Aku hanya butuh pembuktianmu.

Tidak. Jangan menyesal sekarang. Kamu sudah aku maafkan. Aku hanya berharap kamu tidak membuat seseorang jatuh cinta yang benar-benar jatuh lagi: seperti aku.

23:45 WIB

Akhir Februari 2018

 

Editor: Kuntum Mutia Umami

Facebook Comments

Post Author: Nadila D.

Aku adalah puisi; silakan tafsirkan sendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.