Home > rubrik > besokbaper > Surat Terbuka untuk Februari dan Berbagai Kisah Semu yang Tak Pernah Kupahami

Surat Terbuka untuk Februari dan Berbagai Kisah Semu yang Tak Pernah Kupahami

besoksenin.co – Ada yang tak paham dengan kepergian. Perihal sedu tak kunjung berlalu, perihal debar serupa udara tak ada habisnya. Ada yang tak paham dengan sekat tak kunjung sua. Perihal jarak tak berkesudahan, perihal seseorang yang tak henti menggerayangi, meski menahun bergulir waktu. Ada yang tak paham dengan ribuan detik lalu. Perihal membilang ilalang serupamu, beserak, merindu kau yang siap memorakporandakan simpul kusut dalam otakku. Ada yang tak paham dengan kau, yang tiap likunya bermukim serupa sketsa, kian hari kian mengabur, menyisa kelabu-kelabu lara tak ada habisnya.

Perihal jarak tak berkesudahan, perihal seseorang yang tak henti menggerayangi, meski menahun bergulir waktu. via pexels

Aku menemukanmu Februari lalu, pertemuan pertama yang tak banyak waktu. Bertemu denganmu semacam suatu kesiapan yang tak benar-benar siap. Siap karena akan menyambut hari-hari gembira usai menemukanmu, tak siap karena harus berpahit dengan berbagai macam kemungkinan yang tak kuketahui.

Aku sedikit tahu tentang dirimu. Pria yang suka bergumul dengan tinta, tak dapat senyap walau sejumput saja, mencandui kehidupan pemerintah dan tata negara yang tiada habisnya. Aku suka caramu bermain kata-kata, mengiaskan sesuatu yang entah nyata atau tidak menjadi suatu yang sarat akan makna.

 

Pria yang suka bergumul dengan tinta, tak dapat senyap walau sejumput saja. via pexels

Ada yang istimewa darimu, ketika aku bertanya dan kau menjawab dengan penjelasan. Selepas penjelasan itu, kau selalu menyampaikan sebuah kisah. Kisah yang terkadang aku pun bingung membaca bait demi baitnya, bingung karena kisahmu terlalu singkat untuk dipahami. Kau bercerita hanya dengan 10 kata dan itu tentang wanita, lalu aku mengamininya. Aku berandai jika itu untukku dan setelah itu aku mengiakan bahwa memang benar jatuh cinta dapat sesingkat itu.

“Ketika segala urusan telah digariskan oleh Tuhan, dan kehendak makhluk hanyalah saling menemukan. Lalu, kutemukanmu. Kutemukan seseorang yang kini tanpa dipinta, dengan sendirinya memenuhi seluruh isi kepala. “

Waktu terus bergulir, menyisakan aku yang terus menunggu sedangkan kau dibiarkan tidak tahu. Hari itu ternyata benar-benar tiba, kemungkinan pahit yang tak kuketahui itu benar adanya. Kau memang sedang menunggui wanita, wanita yang lebih sepadan denganmu. Aku hanya bisa termangu setelahnya, memandangi wanita yang menjadi pilihanmu. Ternyata aku telah berubah menjadi makhluk perasa tanpa melihat yang semestinya. Kau berbeda dunia denganku, harusnya aku lebih tahu sejak saat itu.

baca juga : Pesan untuk Orang Sunda yang Ragu Menikah dengan Orang Jawa

 

Teruntuk pria pertama yang mengajariku cara menorehkan tinta, suatu hari nanti, cepat atau lambat hatimu akan segera tertambat. Kau akan bersama wanita yang bila dengannya kau begitu bahagia. Yang akan kau tuntun langkahnya, beriringan, bersamamu. Saling bertukar dunia, bercengkerama, memikul titik-titik waktu yang tak mengenal kata semu.

Kau akan sebut ia seseorang, ia yang hendak menggenapi kekosongan dalam dirimu. Ia yang takkan pernah hambar menjelma ampas, meski kerap kau tuangi. Ia tergambar menjadi serpihan bayangmu, menjadi kepingan hidupmu, menemanimu hingga saat alam memisah kau dan dia. Hari itu akan segera tiba dan aku akan amat mempersiapkannya. Meski nyatanya bukan denganku, aku tak menyesal pernah menaruh bahagiaku kepadamu.

Facebook Comments

About Elvira Mentari A

A girl who lives among the words.