Tak Seperti Bumi Yang Diperdebatkan Kebulatannya, Hatiku Sudah Pasti Membulat Untukmu

besoksenin.co – Saat pertama kali kau datang ke rumahku dan bertemu orang tuaku. Sudah tak perlu kita perdebatkan lagi mengenai perasaanku saat itu. Tak perlu ditanyakan lagi mengenai keputusanku selanjutnya.

Gambar via pexels

Saat orang lain berebut mendapat perhatianku, kau justru pergi begitu saja tanpa melihatku. Ketika orang-orang berebut melihat keindahan wanita, kau justru terus berjalan dengan menundukkan pandanganmu. Ketika pilihan orang lain memilih gombal sana-sini demi menunjukkan perasaannya, kau hanya diam seribu bahasa dan memilih untuk datang mengetuk pintu yang tepat.

via pexels

Ketika kau datang dengan senyum dan rasa khawatir ke rumahku, saat itu aku diam-diam tersenyum dari bilik rumahku. Ada rasa bahagia dan haru yang entah mengapa memunculkan air mata yang mengalir hebat tanpa mau dibendung.

Tak usah lagi meminta penjelasanku mengapa aku harus menerimamu. Membeberkan segala ke-naifan mengenai cinta yang semu, menyebutkan segala kebaikan dan kelebihanmu. Tak perlu kan? Kau hanya harus yakin ketika melihat senyum kekasih pertamaku saat menerimamu.

via satumedia

Ketika kau menuturkan tujuanmu datang, aku mendengar sayup-sayup suaramu dari dalam rumahku. Ada gemuruh besar melanda hatiku. Tangisku kian pecah. Bukan, ini bukan tentang tangis yang timbul saat ada rasa sakit yang melanda. Tangis yang sulit sekali kujelaskan. Ku harap kalian juga akan merasakannya dan segera memberi tahu aku mengenai arti tangis tersebut.

Bukankah perasaanku sudah terjawab dengan reaksiku ini?

Bukankah keputusanku tak perlu lagi ku pernyatakan? Tak perlu lagi kau pertanyakan?

Suatu hari, saat aku sampai rumah dan melihatmu sedang bersendau gurau di teras rumah bersama ayah. Barangkali benar-benar harus ku sadarkan hatiku untuk menyimpanmu dalam hatiku. Rapat.  Barangkali perlu ku tegaskan bahwa hatiku memang sudah membulat untukmu. Tak perlu mempertanyakan lagi, tak perlu!

Baca juga: Tolong Pergi Dan Jangan Menoleh Lagi, Kecuali Kamu Sudah Siap

Tak ada yang lebih manis dari madu rasanya saat senyuman terukir di wajah ayah dan ibuku. Tak ada romantisme terindah dibandingkan saat ayah meihatku diam-diam. Entah bahagia atau sedih, raut wajahnya sulit sekali untuk ditebak. Tak ada yang lebih meneduhkan dari tatapan diam-diam ibu saat anak kecilnya akan dilepaskan padamu.

Sudah barang tentu tak perlu mempertanyakan kebulatan hatiku. Biarlah orang-orang di luar sana memperdebatkan bumi bulat atau datar, ku yakinkan kau tak perlu sampai mempertanyakan datar atau bulatnya hatiku memilihmu. (Kuntum MU)

Facebook Comments

Post Author: Kuntum Mutia Umami

Full of dream!- Candu merasa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.