Home > opini > Tanggapan untuk Penulis “Alasan Mahasiswa UNMA Kurang Kritis” yang Sok Tahu

Tanggapan untuk Penulis “Alasan Mahasiswa UNMA Kurang Kritis” yang Sok Tahu

Mahasiswa via Tribatapolresmajalengka

besoksenin.co – Ketika poster artikel “Alasan Mahasiswa UNMA Kurang Kritis” di posting akun beseokseninco, banyak netizen memenuhi kolom komentar. Ada pembelaan dengan dalih berusaha bijak dalam mengambil keputusan, menyarankan untuk focus pada agenda perkuliahan, akun resmi sibuk klarifikasi, hingga banyak netizen yang hanya mampu untuk menghardik. 

Sejatinya, berpikir positif amat lah baik bagi manusia. Saya mengajak para pembaca untuk berpikir positif atas postingan yang beberapa hari ini menjadi sorotan banyak pihak.

Bagi saya, penulis artikel “Alasan Mahasiswa UNMA kurang kritis”  sok tahu dan terlalu cepat untuk menyimpulkan. Mari kita lihat bersama – sama, dalam urutan tri dharma perguruan tinggi, pendidikan berada pada tingkatan paling pertama. Lalu ada penelitian dan pengembangan, dan terakhir ada pengabdian kepada masyarakat.

baca juga : Alasan Mahasiswa UNMA Kurang Kritis

Dalam artikelnya, penulis mengungkit postingan akun @unmahits_ yang menyatakan bahwa tugas mahasiswa hanya berujung pada nilai yang bagus. Nilai bagus, tentunya dilalui melalui proses yang teramat panjang. Terlalu naïf rasanya, apabila tidak ada mahasiswa yang tidak ingin mendapatkan nilai yang bagus. Bahkan, mereka yang dikategorikan sebagai “koboy kampus” sekalipun rela jatuh bangun mengikuti program kuliah semester pendek, hanya untuk mendapatkan nilai yang bagus. Mungkin, mahasiswa ini sedang barada pada tahapan pertama tri dharma perguruan tinggi, yaitu pendidikan.

Banyak beredar informasi, bahwa lembaga baik dari pihak universitas dan juga Badan Eksekutif Mahasiswa memberikan ultimatum kepada pemegang akun tersebut. Apakah ultimatum saja cukup? Tentunya tidak. Saya berharap, pihak yang memberikan ultimatum mampu memberikan arti dari pendidikan dengan sebaik–baik nya, karena pendidikan bukan hanya terpaku pada sebuah nilai. Melalui pendidikan, peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat. Pendidikan, mendorong peserta didik untuk paham, mengerti, dan membuat manusia untuk mampu berpikir kritis. Jika nilai yang menjadi sebuah pertaruhan pada masa perkuliahan, apa bedanya mahasiswa dengan orang mati?

Penulis terlalu ceroboh. Mahasiswa diam, bukan berarti tidak kritis, bisa saja mahasiswa ini sedang sibuk melakukan penelitian dan pengembangan yang sejalan dengan tri dharma perguruan tinggi. Karena peran perguruan tinggi tidak hanya men-transfer ilmu yang sudah tersedia, namun perlu mengembangkannya lagi melalui berbagai kegiatan penelitian. Saya menyarankan penulis, lebih baik menanyakan penelitian apa yang sudah dibuat dan mampu berpengaruh bagi khalayak, serta pengembangan apa saja yang sudah dilakukan dari sebuah penelitian yang sudah ada. Jangan hanya mampu membuat opini saja.

Penulis terlalu subjektif. Bisa saja, pada saat masa bimbingan mahasiswa dan mahasiswi baru, tri dharma perguruan tinggi ini lupa untuk diberitahukan.  Karena hal terpenting dalam masa bimbingan, adalah mencari dan menghafal apa saja syarat dan pra syarat untuk mengikuti masa bimbingan. Pada akhirnya mahasiswa dan mahasiswi baru ini memilih untuk menyibukan diri mencari tahu apa itu “roti Belanda”, daripada sibuk mencari tahu, apa itu tri dharma perguruan tinggi.

Apa yang sebenarnya penulis ketahui, sehingga dengan sangat mudah menulis sebuah opini? Bisa saja Badan Eksekutif Mahasiswa, jauh jauh hari sebelum permasalahan di negeri ini gandrung hingga ke pelosok negeri, mereka sudah melakukan kunjungan (silaturahmi) ke berbagai fakultas. Melakukan kajian secara detail, merangkul organ internal kampus dari mulai himpunan mahasiswa, hingga Badan Eksekutif Mahasiswa dengan skala fakultas. Saya yakin, melalui silaturahmi ini, keputusan yang bijak akan segera lahir.

baca juga : Generasi Idiot Majalengka

Tentunya, terlalu banyak “kategori” untuk menempatkan di mana letak keberadaan mahasiswa ketika Negara ini sedang tidak baik – baik saja. Padahal gerakan pemuda yang terdidik (mahasiswa), bisa dibilang sebagai gerakan civil society, akan terus menempatkan pemuda pada posisi pelatuk sekaligus pengawal  perubahan yang dimana pembangunan adalah jalan utama dalam suatu perubahan.

Secara lahiriah, pemuda selalu berada pada puncak gerakan mobilitas paling tinggi, sangat berpeluang mengisi peran perekat antar wilayah. Pada era desentralisasi ini, semestinya pemuda dapat menginternalisasi kembali efektivitas sebagai jawaban atas peran apa yang semestinya  diambil dalam mengisi pembangunan.

Kita  ketahui secara bersama, bahwa kondisi hari ini, mau tak mau harus kita terima sebagai “konsekuensi” dari tidak terselesaikannya proses perubahan yang secara cepat di akhir era 90’n (pasca reformasi). Para generasi pemetik bunga kini tidak mampu membuktikan kapasitas, kontinuitas, persatuan, dan komitmennya ketika dulu mereka masih menjadi kaum Fabian.

Entah sudah berapa banyak acara pertemuan yang digagas oleh para mahasiswa, organisasi kepemudaan, yang berujung pada nama persatuan, aliansi, perhimpunan, dan kongsi yang terlahir atas pertemuan tersebut. Hampir semuanya dipastikan berakhir dalam satu konsistensi mewakili suara rakyat Indonesia secara umum.

Namun yang seringkali tidak disadari dan terlewati dari beragam pertemuan tadi, bukankah analisa, kesimpulan, rekomendasi, dan tuntutan yang dihasilkan selalu sama dan bermuara kepada soal malfungsi peran Negara dan system pelaksanaan dalam mengejewantahkan praktik Negara yang berdaulat, adil, dan makmur?

Jika demikian, masih perlukah kita berdebat soal eksistensi? Teruskah kita bersebrangan dan berbeda menentukan jalan, saluran, wadah, golongan, hingga common enemy yang paling benar? Jangan tambah kegusaran Ibu Pertiwi yang semakin kehilangan arah karena anakanya lebih suka menyibukan dirinya dalam konflik sesama, sementara demagog –demagog politik bebas berkeliaran menggerogoti pondasi kebangsaan ini.

Lalu sampai kapan keadaan dan kondisi ini terus dibiarkan? Banyak orang yang menginginkan perubahan, namun tidak banyak orang yang mau memulainya dengan keberanian. Keberanian untuk melawan ketidakbenaran, bukan membenarkan kebiasaan yang merusak bangsa ini secara perlahan.

Jauhkan ego sektoral, mendekat lah pada keberanian dan wadah besar yang dinamakan demokrasi. Sudah waktu nya, mahasiswa berperan sebagaimana peran dan fungsi nya.

“bila kaum muda yang telah belajar di sekolah menganggap dirinya terlalu tinggi dan pintar untuk melebur dengan masyarakat yang bekerja dengan cangkul dan hanya memiliki cita cita yang sederhana, maka lebih baik pendidikan itu tidak diberikan sama sekali!” (Tan Malaka).

Tulisan ini merupakan kiriman dari Ari Putra Danianto (@ariputrad)

Facebook Comments

About Besoksenin

Majalengka Youth Media. Follow juga @bscomerch dan @besokbaper

Check Also

Alasan Mahasiswa UNMA Kurang Kritis

Universitas Majalengka via @youthmanual besoksenin.co – Mahasiswa Universitas Majalengka saat ini sedang menjadi sorotan. Hal …