Tentang 20 Hari Ramadan di Luar Majalengka

besoksenin.co – Sebenarnya, ini bukanlah ramadan pertama saya berada di luar Majalengka, namun bulan suci selalu berhasil membuat saya lebih mudah emosional dan menitikan air mata.

Selain buka dan sahur bersama ibu juga keluarga di rumah, ada banyak hal yang tak bisa dilakukan oleh saya, namun tetap bisa dilakukan oleh teman-teman yang tinggal di Majalengka. Misalnya, tentang Bandara, ada desir haru bercampur bangga ketika akhirnya Bandara diresmikan, namun hanya itu saja yang bisa dilakukan. Jangankan melihat langsung atau berswafoto di sana, melihat dari sosial media pun rasanya sudah bahagia. Berikut tentang 20 Hari Ramadan saya di luar Majalengka.

Ini adalah tentang 20 Hari Ramadan
Ini adalah tentang 20 Hari Ramadan saya berada di luar Majalengka via Pixabay

Hari ke-1

Apa yang pertama, selalu saja paling berkesan, bukan? Waktu itu saya semangat sekali bangun dan melaksanakan sahur, namun sebelum suapan pertama sampai di mulut, tiba-tiba teringat keluarga di rumah. Tapi, ah sudahlah, baru hari pertama. Di tempat kerja pun, saya datang lebih pagi. Waktu itu, rasanya semuanya bakal baik-baik saja, namun Ramadan di luar Majalengka tidak pernah semudah apa yang dipikirkan.

Hari ke-3

Bangun sahur kali ini lebih telat daripada sahur di hari pertama, ada hal lain lagi yang saya rindukan, kali ini bukan keluarga. Ya, makanan. Menu kali ini saya beli dari warteg dekat kontrakan, rasanya hambar, tak ada terasa manis atau asin. Saya merindukan tiap menu yang ibu buat di rumah! Sepulang kerja, saya membeli kolak untuk buka puasa, saya tak bisa menghabiskannya! Kolak di sini dibuat asal-asalan, jauh dari kualitas dengan kolak di kampung dan kolak di Majalengka tiada dua.

Ramadan di Luar Majalengka
Ramadan di Luar Majalengka tidak pernah semudah apa yang dipikirkan via Pixabay

Hari ke-5

Saat menunggu bedug magrib, saya nongkrong di luar kontrakan. Saat azan berkumandang saya tak segera masuk, melainkan melihat dulu ke langit arah selatan, letak kota Majalengka. Andai saya berada di sana buka puasa kali ini.

Hari ke-6

Untuk pertama kalinya saya sahur kesiangan, hanya tersisa 5 menit sebelum imsak.

Hari ke-7

Libur kali ini saya mencoba ngabuburit di sini, tapi ngabuburit sejati itu hanya ada di Majalengka. Kita bisa mendapatkan ketenangan melihat alam, duduk-duduk di pesawahan, bukan terjebak macrt-macetan seperti di sini.

Hari ke-10

Saya bangun, dan ternyata sudah ada matahari. Saya melewatkan sahur dan subuh kali ini. Itu bukan satu-satunya hal yang sedihkan, tapi juga ibu, saya rindu ibu! Jika di rumah, dengan cara apa pun Ibu pasti bangunkan saya, termasuk dengan cipratan air. Tapi itu masih lebih baik, daripada takt  ada hadirnya. Saya rindu ibu, saya akan segera pulang, membawa uang, dan membahagiakanmu!

Ku menatapmu
Ku menatapmu via pexels

Hari ke-11

Saya menelepon ibu dan keluarga, kami berbicara banyak sekali hal. Namun alih-alih mengobati kerinduan, itu hanya membuat saya tambah ingin pulang.

Hari ke-14

Saat ngabuburit, saya tiba-tiba ingin menjadi Nobita, lalu merengek pada Doraemon meminta pintu ke mana saja. Saya pasti menggunakan pintu itu tiap buka dan sahur.

Hari ke-15

Saya melihat teman-teman sudah pulang, lalu kapan saya pulang?

Hari ke-17

Cukup sudah! Saya harus bisa mengumpulkan banyak uang di sini, mendapatkan modal, lalu membuka usaha di Majalengka! Apalagi sekarang ada Bandara, kan? Rasanya tinggal di Majalengka lebih progressif, daripada terus mengadu nasib di kota orang. Saya berjanji pada diri sendiri untuk segera pulang, dan suatu hari nanti, tinggal di Majalengka selamanya!

Hari ke-20, tepat 20 hari Ramadan

Waktu berlalu, dan tinggal beberapa hari lagi saya pulang. Semoga ramadan tahun ini berkah. Tunggu saya, Ibu. Tunggu saya, Majalengka!

 

Editor: Fakhrul Azharie

Facebook Comments

Post Author: Tommi Pringadi

Seorang jomblo profesional yang bercita-cita bikin sunatan massal. I am not player, i am the game. :))