Home > rubrik > besokbaper > Tentang Perpisahan, Jika Kamu Bukan Jodoh yang Ditakdirkan Tuhan

Tentang Perpisahan, Jika Kamu Bukan Jodoh yang Ditakdirkan Tuhan

Melihatmu bahagia bukan denganku via pexels

besoksenin.co – Aku tidak asing dengan perpisahan. Setidaknya, setiap lulus sekolah, beberapa kali aku merayakan momen menyambut hari-hari penuh kerinduan tersebut. Setelah lama satu kelas, menikmati suka duka bersama, pada akhirnya kita akan bertemu pada satu titik bahwa semuanya mencapai batas akhir.

 

Perpisahan adalah takdir, merelakan adalah sebuah pilihan.

Sayangnya, di dunia ini ada beberapa anomali yang terkadang membuat logika kita tidak berpikir semestinya dan mata seakan buta olehnya. Perpisahan yang harusnya direlakan, malah dijadikan ajang penyesalan. Apalagi jika bukan karena cinta?

baca juga : Ketika Tidak Ada kecocokan, Hidup Bersama

Tiga puluh hari sebelumnya, untuk pertama kali sejak patah hati terhebat yang pernah dilakukan wanita yang satu-satunya aku jadikan tempat berteduh, hatiku kembali luluh. Ibarat rumus fisika, jangan pernah kamu tanyakan mengapa hatiku bisa kembali luruh, yang jelas perasaanku adalah hasil akhir dari rumitnya rumus tersebut, pasti dan tidak bisa ditawar-tawar lagi.

Fakta bahwa kamu sudah memiliki pacar hanya aku anggap sebagai angin lalu. Jauh sebelum mengenalmu, aku adalah laki-laki yang memegang prinsip bahwa sebelum janur kuning melengkung, siapapun boleh untuk ditikung.

Dengan umur yang sudah dalam kategori matang untuk menikah, aku berkomitmen bahwa mendekatimu bukan lagi hanya main-main. Tujuanku bukan hanya merebut perhatianmu lalu dipamerkan di berbagai media sosial. Harapanku adalah mengajakmu hidup bersama. Keinginanku adalah kamu menjadi orang pertama yang membangunkanku sebelum adzan subuh memanggil. Tekadku adalah menjadikanmu manusia paling bahagia di dunia.

Banyak yang mempertanyakan keputusanku. Ada yang bertanya mengapa begitu cepat, mengapa orang yang kuingin ajak hidup bersama adalah dia yang sudah punya pacar, dan berbagai pertanyaan yang meragukan pilihan yang sudah kuputuskan. Jawabanku singkat “Cinta tak butuh banyak alasan.”

Benar. Tidak ada yang salah dengan pernyataan “Cinta tak butuh alasan.”

Namun, kesalahanku adalah tidak menyadari bahwa “Cinta butuh balasan.”

Kejadian enam tahun lalu kembali terulang. Patah hati terhebatku kembali terjadi. Ketika aku menaruh mimpi yang tinggi padamu, kenyataan menyadarkanku bahwa mewujudkannya tidak semudah membalikan telapak tangan.

Malam itu, aku sampaikan apa yang sudah kupertimbangkan matang-matang. Perihal mengajakmu hidup bersama dan menjadikanmu satu-satunya wanita tempatku menumpahkan tinta cerita. Kamu tak berani menatapku, pandanganmu lurus melihat jalanan yang semakin lengang, hanya sesekali pandanganmu menoleh padaku. Alih-alih diam dan mendengarkan, beberapa kali kamu menyela ketika aku berbicara. Pertanyaan dan pernyataan bergantian keluar dari mulut wanita yang hatinya coba aku perjuangkan.

“Kenapa harus aku? Kan masih banyak cewek lain yang lebih dari aku.” Pertanyaan itu, muncul dengan raut wajah bingung. Bagimu, mendengar pernyataanku untuk mengajakmu ke jenjang yang lebih jauh masih terasa mimpi.

Lalu, aku jelaskan bahwa kadang cinta seperti itu. Bisa seperti tukang parkir liar yany tiba-tiba muncul, padahal kedatangannya tidak selalu kita harapkan. Namun sering membantu dikala padatnya tempat parkiran.

Kamu menggeleng.

“Cinta tak bisa secepat itu, perlu proses yang panjang untuk memutuskan hidup bersama, menyamakan isi kepala, dan menyatukan pendapat yang acap kali berbeda.” Katamu, kali ini dengan menatapku.

Pernyataan selanjutnya kamu memakai berbagai analogi dan retorika yang intinya aku paham, namun aku pura-pura tidak paham. Intinya satu; kamu menolak ajakanku untuk mengarungi bahtera bersama.

Kamu harus tahu, dalam cinta, kita harus paham kapan waktunya berlari, dan kapan waktunya berhenti. Berhenti memperjuangkan bukan berarti tak lagi mendoakan. Tak lagi memberi perhatian bukan berarti hati sudah mengikhlaskan.

Entah berapa lama aku akan sadar bahwa mungkin kamu bukan jodoh yang ditakdirkan tuhan. Jika waktunya tiba; kamu sudah menemukan orang lain untuk mengarungi luasnya dunia, percayalah aku adalah orang terakhir yang ikut bahagia.

Facebook Comments

About Riza D. Januar

Cowok yang berwajah susah | Susah dilupain

Check Also

lomba menghias gapura

Sambut HUT RI dan Asian Games, Kominfo Selenggarakan Lomba Sarat Makna

besoksenin.co – Tahun 1962, Indonesia terpilih menjadi tuan rumah Asian Games untuk kali pertama. Waktu …