Ternyata Ada Perspektif Majalengka dalam Film Cars

Ternyata ada perspektif Majalengka dalam film Cars (Foto: www.disney.cars.id)

Walt Disney Pictures belum lama ini mengeluarkan trailer film Cars 3, yang rencananya akan tayang 16 juni 2017 nanti. Tapi untuk melihat perspektif Majalengka, kita harus kembali ke 11 tahun yang lalu, atau saat keluarnya film yang diproduksi Pixar Animation Studios ini masih di seri pertama.

Sobat bsco penggemar film Cars ini akan masih ingat tentang alur cerita yang dimulai fokus pada balapan final antara Strip Weathers si juara bertahan, Hick Chick yang selalu nomor dua, dan tokoh utama Lightning McQueen; si anak baru yang menyita perhatian sejak berada di debutan, namun punya watak sombong. Singkat kata mereka bertiga ternyata harus finish bersamaan, dan balapan harus diulang di California, McQueen memaksakan Mack kendaraan pengakutnya tanpa beristirahat demi sampai di tempat balapan lebih dahulu. Akhirnya Mack ketiduran, dan McQueen terdampar di Radiator Springs. Well, sepertinya tidak usah menceritakan lagi alur ini sepenuhnya. Intinya ketika melihat keadaan Radiator Springs, kita akan menemukan Majalengka. Lah, di mana kemiripannya?

Sebenarnya, satu-satunya perbedaan Radiator Springs dan Majalengka hanyalah; tempat McQueen terdampat itu pernah ramai, sedangkan kota kita tidak, dan itu justru membuat masalah lebih besar. Diceritakan, Radiator Springs perlahan-lahan ditinggalkan, ketika highway dibangun. Sama seperti dibuatnya jalan tol Cipali, banyak orang menyambut suka-cita, kota angin yang sunyi ini bisa ramai, namun film Cars menunjukan kepada kita, itu justru indikasi peradaban akan semakin meredup, dan kesunyian kita justru bertambah. Mengapa?

Sekarang tanyakan pada diri kamu sendiri, memangnya apa yang Majalengka sudah punya untuk membuat orang-orang memilih singgah? Apa kota kita penuh mall lengkap sehingga mereka mau belanja di sini? Apa kota kita memiliki nilai sejarah? Pariwisata Majalengka lebih keren dibanding kabupaten tetangga? Bahkan untuk yang lelah dan butuh istirahat saja, bukannya akan berpikir dua kali untuk memilih hotel di Majalengka, bahkan mereka akan punya pertanyaan: “Sebetulnya di Majalengka ada hotel nggak ya?” Daripada ragu, mending tahan sedikit lagi, Cirebon pasti lengkap. Apa yang membuat pintu keluar Kertajati dan Sumberjaya terlihat menarik? Itu pertanyaan penting, yang mesti segera dijawab.

Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah; sebetulnya Majalengka ini kota apa?

Jika julukan kita saja kota angin,  itu sama sekali tidak menjaul, semua kota juga punya angin, kan? Lain halnya dengan Sumedang, traveller akan berpikir untuk singgah dan membeli “Tahu Sumedang” yang ekslusif.

Berbicara lagi parawisata memang sudah mulai berkembang, meski menemui hambatan yang lumayan kompleks, seperti mayoritas masyarakat Majalengka yang tidak menunjukan sadar wisata. Yang lebih penting lagi, apa parawisata kita sudah bisa membuat orang-orang mau berhenti? Bandara memang akan membantu, tapi tetap saja jika Majalengka tidak memiliki daya tarik, mereka akan memilih langsung ke Cirebon atau Bandung saja. Jadi masalah ini bukan sepele, dan taun-tahun ini adalah tahun krusial bagi kota kita tercinta.

Apa kita harus menunggu sosok Lightning McQueen terdampar? Sampai kapan? Sebagai generasi muda Majalengka, kamu tidak ingin hanya tinggal diam bukan? (Tommi)

 

Facebook Comments

Post Author: Tommi Pringadi

Seorang jomblo profesional yang bercita-cita bikin sunatan massal. I am not player, i am the game. :))

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.