Home > rubrik > besokbaper > Teruntuk Waktu Yang Pernah Kau Janjikan Di Kedai Simpang Jalan

Teruntuk Waktu Yang Pernah Kau Janjikan Di Kedai Simpang Jalan

besoksenin.co – Aku sudah lelah memupuk gusar yang tak kunjung usai. Penat rasanya, ketika si empunya senyum seringai itu tak kunjung tiba. Tak berkabar, tak bersiar, entah berkelana kemana hingga janjinya terlupa begitu saja. Temuan yang kutemukan saat ini hanyalah embusan angin diambang pintu tak bersekat. Terpampang arloji dengan gerak semakin cepat, dengan detak enggan melambat. Waktu, bersabarlah, ucapku. Tak biasanya ia seperti itu.

via Pexels

Aku kembali menatap jendela ketika mendapati petang kian berwarna jingga. Sudah setengah hari kusisipkan waktuku disana. Kedai simpang jalan yang saban hari dipadati pembeli, kini beroperasi seperti biasa lagi. Detik-detik kesunyian beberapa waktu itu terganti oleh lalu lalang pelanggan, menambah sedikit kebisingan. Dua tegukan cangkir pertama teh dalam gelas porselen kian getir, kuteguk seutuhnya hingga benar-benar surut.

“Beeeep”

Gawai yang kuletakan berbunyi sekilas memberi tanda. Ada pesan singkat yang tergantung setelahnya. Ternyata pesan dari pria itu, yang kemudian mulai membuka percakapan dirung obrolan.

17.35 “Maaf baru mengabarimu.” Ujarnya.

17.35 “Lama!” Balasku.

17.45 “Aku kesana.”

17.50 “Oh iya, kalo aku belum nyampe, jangan marah-marah. Jangan buka obrolan sama orang asing, nanti kamu malah buka hati lagi, hahaha. Kamu pesan makan atau minum duluan. Tungguin aku, aku bakal nyampe bentar lagi.” Tambahnya, mengakhiri.

Selepas mengakhiri, aku sengaja tak menjawabnya. Hanya saja, tak biasanya ia mengirim kata sebanyak itu, pikirku. Namun, jika bukan karenanya, tak mungkin kubagi waktu untuk hal membosankan seperti ini. Jika bukan karenanya, aku enggan menunggu selama ini.

Tiga puluh menit kembali berlalu. Pria seringai itu tak lekas menunjukan batang hidungnya. Sudah cangkir ketiga, aku menenggak air yang sama. Hingga bunyi “beeeep” selanjutnya membuyarkan segala kegusaranku.

baca juga : Surat Terbuka Untuk Februari

***

Aku menatap layar gawai dengan sebuah pesan menggantung diatasnya, pesan yang enggan kupahami hingga saat ini. Bukan pria seringai itu lagi yang menghubungiku, melainkan kawan karibnya. Ia membawa kabar bahwa ada sebuah peristiwa yang tak ingin aku akui. Peristiwa yang menyebabkanmu tertidur pulas dalam masa yang entah hingga batas waktu yang tak diketahui.

Aku termenung beberapa waktu, kemudian bergegas pergi meninggalkan kedai itu. Aku tak percaya jika kita mengakhiri pertemuan ini dengan isak tangis yang jatuh dari hati. Aku terlampau kesal, terpaksa menerima apa-apa yang tak kupahami, aku terlampau kesal mendapati kenyataan bahwa ia ternyata pengingkar yang andal. Mengingkari sebuah pertemuan denganku dan benar-benar tak mendatangiku. Bahkan setelah ini, tak akan lagi mendatangiku. Tetapi, malah aku yang kemudian mendatanginya dengan hati sedu, mengantarnya, tak ada lagi saling menyisip kabar setelah itu.

Tetapi, malah aku yang kemudian mendatanginya dengan hati sedu, mengantarnya, tak ada lagi saling menyisip kabar setelah itu.

***

Hitungan tahun berlalu, mendahului sedu yang enggan berlalu. Namun, seulas senyum mengembang petang ini. Kembali kutatap jendela yang sama, menatap petang yang kian menjingga. Dalam lamunan, kembali kumelihatnya. Ia tiba-tiba datang, menyerukan bunga bahwa esok tak boleh layu.

via Pexels

Aku kembali di lain waktu. Dengan jam kunjung yang sama, ketika kau janjikan “Tunggu aku, aku akan sampai sebentar lagi,” ucapmu. Senyum bercampur nanar tetap kusisipkan untuk petang ini. Meskipun semu, setidaknya hari ini kuberhasil melihatnya menghampiri. Selamat tidur sayang, terima kasih pernah menjadi bagian dari sebagian ceritaku. Selepas kau tak kembali, aku tak akan lagi terlalu mempercayai isi bumi. Kusayang kau, selalu.

 

Editor : Riza D. Januar

Facebook Comments

About Elvira Mentari A

A girl who lives among the words.

Check Also

Meninggalkan dan Ditinggalkan Adalah Sebuah Keputusan. Kamu Hanya Boleh Menangis Sesaat

besoksenin.co – Mengingat kenangan yang telah terjadi di hidup kita bukanlah sebuah hal mudah. Ada …