Home > rubrik > besokkemana > Tipuan tentang Saung Eurih, dan Fakta yang Sebenarnya

Tipuan tentang Saung Eurih, dan Fakta yang Sebenarnya

Saung Eurih dokpri

Ternyata Saung Eurih tidak sesuai dengan apa yang ada di dalam kepala kita selama ini.

besokseninco – Kalau mendengar Saung Eurih, apa yang ada di dalam kepala kamu? Restoran bergaya sunda? Tempat makan liwet? Ternyata anggapan ini salah besar. Lantas apa sebenarnya Saung Eurih? Apa yang membuat tempat ini berbeda?

Ternyata namanya bukan Saung Eurih

“Ini namanya Saung Nanjung, sebenarnya. Saung Eurih adalah nama komunitasnya,” tutur Eman Kurdiman, pemilik Saung Eurih. Komunitas Saung Eurih yang menjadikan Saung Nanjung sebagai tempat untuk aktivitas mereka, yang barangkali membuat nama itu akhirnya tersemat dan menyebar di masyarakat.

Nama Saung Eurih sendiri diambil dari Saung yang bermakna ruang, sedangkan “eurih” artinya ilalang. “Ilalang selalu dianggap sebagai perlawanan, susah diatur, suka mengganggu. Tetapi, ketika ilalang tumbuh di tempat yang tepat, ia bisa menjadi berguna.”

Menolak disebut sebagai restoran

Tentu karena suka makan liwet di Saung Eurih, bisa saja akhirnya kita menyebutnya sebagai restoran. “Kami bukan restoran,” tolak Kang Eman. Menurutnya, sebab aktivitas yang terus menerus orang-orang dilakukan di sana adalah makan liwet, maka anggapan Saung Eurih adalah restoran tersemat, “ketika orang-orang mulai menginap di sini, mungkin nanti kami di sebut hotel. Atau, ketika banyak kegiatan edukasi di sini, kami akan disebut sekolah.”

Bukan hanya tempat makan

Saat kami melakukan kunjungan ke Saung Eurih beberapa hari lalu, ketika diajak berkeliling, kami terkejut ternyata ada yang menikah di sana. Sambil menunjuk, Kang Eman mengeluarkan keluhan kecil. “Seharusnya ada yang memberitahu saya mereka mau nikah di sini,” kalimat berikutnya darinya membuat kami terkejut, “Kalau bilang kan, bisa kami bantu. Saya rasa makan bersama keluarga besar di sini saja sudah cukup, sisanya biar kami yang membantu,” di sini saya sadar tentang konsep berbagi, nyatanya membahagiakan orang lain bisa dilakukan dengan sederhana. Tidak perlu mengada-ada, manfaat saja apa yang sudah kita punya. Saat berada di Saung Pundung, host dan kru bikinlaper pamit pulang, tebak apa yang dikatakan Kang Eman pada mereka? “Semoga bahagia di sini,”

Kang Eman menjelaskan bahwa apa pun bisa dilakukan di Saung Eurih, bermusik, literasi, arah apa pun. “Selama ada nilai, dan terikat pada simpul yang sama,” tambahnya.

Lalu apa Saung Eurih?

Semua pertanyaan saya terjawab, mengapa Saung Eurih begitu berbeda? Mengapa ketika masuk ke sini, seolah saya memasuki atmosfer baru, yang tidak dapat ditemui di mana pun? Mengapa semua menu di sini tidak terlalu mahal? Ternyata ada alasan mengapa saung-saung di sini memiliki nama dan filosofi masing-masing. Ternyata ada alasan mengapa mereka sengaja tidak mengecat saung-saung di sini, dan dibiarkan sederhana. Lalu apa Saung Eurih? Singkat, Saung Eurih adalah referensi untuk belajar membaca hidup.

Saya membayangkan, bertahun-tahun lalu Kang Eman dan komunitas Saung Eurih pindah ke sini, lalu karena mereka menghargai nilai kesederhanaan maka mereka membangun sebuah rumah sederhana, lalu rumah itu diapresiasi, banyak orang datang. Karena selalu disambut dan disuguhi dengan baik, tentu saja mereka akan betah untuk berlama-lama, dan ketika begitu, sudah pasti ada perut yang harus diisi. Selain cocok untuk iklim perbukitan, nasi liwet juga cocok untuk merepresentasikan hidup sederhana. Lalu ketika makan maka butuh minum, dan seterusnya.

Saung Eurih dokpri

Awalnya adalah spot foto

Sebelum dikenal dengan liwetnya, Saung Eurih adalah spot foto. Karena melihat Saung Nanjung suka dijadikan objek foto oleh tamu, maka Saung Eurih berusaha ‘menyuguhi’ mereka dengan membuat beberapa spot tambahan. “Ini karena kesadaran saya membaca zaman,” ketika Kang Eman mengatakan ini saya teringat, tahun-tahun pertama Saung Eurih dibangun adalah tahun yang sama ketika Instagram mulai naik. Dan tidak hanya itu, saya melihat ini sebagai upaya beliau untuk memahami, membahagiakan, dan mencari tahu apa yang mereka butuhkan.

Baca juga : Begini Alasan Mengapa Banyak Bisnis di Majalengka Gulung Tikar


Ketika pulang, entah bagaimana, selain kenyang, saya juga menjadi ingin mengikuti pola hidup sederhana dan berbagi kebahagiaan seperti Kang Eman dan Saung Eurihnya, saya ingin menjadi penting sehingga ada tamu, lalu berupaya menyuguhi dan senantiasa melakukan yang terbaik ke mereka. Selanjutnya adalah tinggal bagaimana cara saya memahami orang lain, lalu mencari apa yang mereka butuhkan dari saya. (Tommi Pringadi)

Facebook Comments

About Tommi Pringadi

Making history