Tradisi Ngayun Zaman Dahulu Kala Ini Wajib Kamu Ketahui

besoksenin.co – Meski mayoritas penduduk asli Majalengka adalah orang sunda, bukan berarti tradisi di dalamnya monoton dan tidak beragam. Hampir setiap kecamatan bahkan setiap desa di kabupaten Majalengka memiliki tradisi khas masing-masing. Salah satu tradisi yang berkembang di daerah Majalengka adalah “Ngayun”.Tahu gak, ngayun itu apa? Yap! Tradisi ngayun merupakan sebuah tradisi masyarakat sunda untuk menamai bayi pada hari ke-tujuh setelah dilahirkan. Perlu kamu ketahui bahwa tradisi ngayun pada zaman dahulu lebih ribet dan berbau mistis dibandingkan sekarang. Mau tahu bagaimana tradisi ngayun zaman dahulu kala? Kuy! Simak artikel ini sampai habis.

Dalam adat istiadat masyarakat sunda, bayi akan diresmikan namanya pada hari ke-tujuh setelah kelahirannya. Upacara peresmian nama ini disebut “Ngayun”. Kata “Ngayun” sendiri berasal dari upacara inti dari tradisi tersebut dimana si jabang bayi diayun di ayunan tradisional yang terbuat dari kain samping.

Bayi dalam keranjang via Pexels

Tradisi ini dimulai dengan menaruh jabang bayi di ayunan yang di bawahnya sudah diletakkan berbagai makanan seperti nasi, sambal, buah-buahan, dan lain-lain. Kemudian, makanan tersebut dibagikan kepada tamu yang hadir untuk disantap bersama-sama. Setelah itu, paraji atau dukun beranak akan membawa bayinya untuk diletakkan di jojodog (bangku kecil dari kayu). Wah! bayinya mau diapain ya? Ternyata si jabang bayi akan dimintai izin atas nama yang sudah disiapkan oleh keluarganya. Paraji akan memukul jojodog tersebut untuk meminta izin kepada jabang bayi. Jika bayinya menangis berarti namanya tidak diterima, dan jika bayinya tidak menangis berarti namanya diterima oleh si jabang bayi. Kemudian bayi akan diayun lagi beberapa kali sambil dido’akan oleh paraji.

Keluarga kecil bahagia

Ritual ngayun tidak berhenti sampai disitu. Setelah diayun sambil di do’akan oleh paraji, bayi akan dibawa keluar dan keluarga akan menanam padi dan jaat di depan rumah. Penanaman padi dan jaat ini sebagai simbol pengharapan agar si jabang bayi akan sukses di masa depan. Nah! Biasanya juga tradisi ngayun ini diakhiri dengan tradisi “Tawur” atau “Gawur” sebagai penutup upacara syukuran atas kelahiran si jabang bayi tersebut.

Kurang lebih seperti itulah tradisi ngayun pada zaman dahulu. Dedek-dedek zaman sekarang pasti baru tahu. Maka dari itu, kita sebagai pewaris asli dari tradisi tersebut wajib mengetahuinya. Bukan hanya diketahui saja, tapi kita harus ikut serta dalam melestarikannya agar semakin bangga menjadi orang Majalengka.

 

Editro : Riza D. Januar

Facebook Comments

Post Author: Wawan Gunawan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.