Untuk Lelaki yang Pernah Aku Perjuangkan: Pergilah, Selamat Berteman dengan Sesal Karena Telah Meninggalkanku

Ingatkah? Kita pernah sama-sama malu untuk bilang aku mencintaimu – via dokumentasi pribadi

Terlepas dari nanti kau bersamaku atau tidak,

aku selalu senang menikmati prosesnya denganmu

besoksenin.co – Aku pernah bercerita pada secarik kertas. Pada pena yang mengering di pinggirannya. Atau, pada embun di balik jendela yang muncul karena hujan. Aku pernah bercerita, pun pada batu. Lalu, aku mulai berani mengukir cerita sendiri di atasnya. Ada aku, kamu, lalu kita yang saling cinta.

Di atas batu itu, mari kita mulai. Dengan menuliskan paragraf tentang pertemuan kita. Lalu, beberapa senja yang kita lewati bersama hingga akhirnya hanya sepotong malam yang menelan cinta kita yang kemarin sempat berpijar, seperti bintang. Oh, tunggu. Aku ingin menanyakan sesuatu padamu. Perihal ini, malamkah yang terlalu gelap, ataukah cinta kita yang meredup? Aku hanya ingin menuliskan cerita tentangmu: kamu yang bahagia bersamaku.

Ini cerita yang kutulis sendiri. Akan kuatur semauku. Kujadikan aku sebagai tokoh utamanya. Namun, ada kesalahan remeh yang membuat naskahku berantakan. Aku menjadikan sang tokoh utama sebagai tokoh protagonis. Tokoh yang begitu mudahnya dibodohi, mudahnya disakiti, mudahnya dikhianati dan—

Tentunya begitu mudah untuk ditinggalkan.

Aku menjadikan sang tokoh utama sebagai tokoh protagonis. Tokoh yang begitu mudahnya dibodohi, mudahnya disakiti, mudahnya dikhianati dan—

Tentunya begitu mudah untuk ditinggalkan.

Aku tak pernah merasa seperti ini. Semuanya terasa random hingga aku tak menemukan bagian hidupku yang seutuhnya. Aku masih tak mengerti jalan pikiranmu. Apa yang kamu mau, apa yang kamu maksud, semuanya masih terlihat samar di mataku. Aku sudah menjaga hati untukmu. Tapi apa balasanmu?

Maafkan aku yang mencintaimu dengan sangat via pexels

Mengkhianatiku dengan sering? Berkencan dengan teman baikku tanpa aku mengetahuinya? Atau, berkencan dengan wanita yang berparas biasa saja dan berprofesi sebagai model abal-abal? Atau, memanjakan wanita yang lebih tua darimu, yang tutur katanya lebih mirip pengabsen kebun binatang?

Memangnya aku memerlakukanmu seperti apa? Padahal aku selalu ada untukmu, selalu mengusahakan berbagi detik disela kesibukanku. Atau, menyalahkan diri sendiri agar namamu tetap dikenal baik oleh semua orang.

Tak ada alasan yang benar-benar kuat untuk aku menyakitimu—terlebih lagi kau adalah alteregoku. Seseorang yang aku sayangi dan juga memahamiku. Orang yang menyakitimu tidak pantas disebut sebagai manusia waras.

Memangnya, hidupku harus senista ini?

Untuk alur selanjutnya, akan kubuat si tokoh utama menjadi tak lagi bergantung pada tokoh pendukungnya. Akan kubuat pula si tokoh utama ini menjadi lelah. Lelah berjuang sendirian. Pun lelah, setia pada orang yang tidak setia. Sebab tokoh utama ini sudah pernah mencintai, dalam sebuah pengkhianatan. Lalu, di akhir cerita, akan kujadikan si tokoh utama ini sebagai sosok yang tangguh dan bahagia. Tentu dengan kebahagiaan yang tanpa merebut atau bahkan merusak kebahagiaan orang lain.

Lalu, di akhir cerita, akan kujadikan si tokoh utama ini sebagai sosok yang tangguh dan bahagia. Tentu dengan kebahagiaan yang tanpa merebut atau bahkan merusak kebahagiaan orang lain.

Padamu: waktu, aku mohon ajari aku berbagai cara untuk melupakan. Bukan kenangannya, tapi untuk semua kesalahan yang telah ia perbuat kemarin: padaku. Aku hanya ingin hatiku benar-benar bisa memaafkan dia yang keterlaluan.

Dan untukmu—seseorang yang pernah aku perjuangkan mati-matian: pergilah. Selamat berteman dengan sesal karena meninggalkanku.

 

Editor : Riza D. Januar

Nadila D.

Ditulis oleh Nadila D.

Aku adalah puisi; silakan tafsirkan sendiri.

Lihat profil lengkap