Home > rubrik > besokeling > Untukmu Majalengka, Terima Kasih Sudah Menjadi Saksi Masa Kecil yang Sulit Dilupa
ajalengka. Kamu adalah tempat di mana saya berani mulai bermimpi, meski patah sesekali, tetapi itu hanya sebagian kecil dari impian-impian yang kususun rapi. (Foto; Tommi Pringadi/besoksenin.co)

Untukmu Majalengka, Terima Kasih Sudah Menjadi Saksi Masa Kecil yang Sulit Dilupa

ajalengka. Kamu adalah tempat di mana saya berani mulai bermimpi, meski patah sesekali, tetapi itu hanya sebagian kecil dari impian-impian yang kususun rapi. (Foto; Tommi Pringadi/besoksenin.co)
Majalengka. Kamu adalah tempat di mana saya berani mulai bermimpi, meski patah sesekali, tetapi itu hanya sebagian kecil dari impian-impian yang kususun rapi. (Foto; Tommi Pringadi/besoksenin.co)

Setelah bertahun-tahun menginjak bumimu, makan dan besar oleh tetumbuhan yang ditanami di tanahmu, ada satu hal lagi yang saya pelajari. Berkatmu, saya menjadi tahu, bahwa cinta tak hanya bisa tumbuh pada manusia, tetapi juga tempat.

Saya sudah dewasa dan pergi ke luar kota. Di sana, saya kerap ingin kembali bersamamu saja. Bukankah salah satu tanda cinta adalah lahirnya rindu? Saya mencintaimu, itu sebab saya sering merindukanmu. Kadang-kadang, kalau ada cukup waktu, saya sengaja jalan-jalan untuk keliling mengitarimu, bukan masalah meski tanpa tujuan. Karena seringkali saya melihat saya, saya yang lain, saya kecil, berlari-lari tanpa beban, dan segala kenangan yang pada akhirnya berhasil membuat saya merenung. Nyatanya, karenamu juga, saya punya segalanya untuk hebat.

Hebat, mengapa tidak? Tak seperti Jakarta, kamu menghembuskan udara bersih dengan kadar oksigen tinggi, kamu membiarkan saya memakan tanaman dari tanah tanpa kontaminasi, pun kamu siap siaga melindungi dari segala bencana. Coba saya lahir di Aceh, mungkin tubuh ini sudah debu disapu Tsunami. Atau di Jogja, mungkin juga tampil di televisi sebagai bagian daftar korban gempa. Tentu saja ini kuasanya Tuhan, tetapi terimakasih karena selalu mencoba kuat.

Terimakasih sudah buat orang tua saya nyaman, sehingga memilih mendiamimu. Terimakasih karena mempertemukan saya dengan teman-teman dan sahabat. Teman menjadikan hidup penuh warna, dan sahabat yang bisa memastikan meski saya bertemu hitam, saya tetap punya alasan untuk tertawa. Terimakasih buat saya bertemu dengan guru-guru hebat, meski sering bikin kesal, tetapi anak nakal ini tak akan lupa peran mereka.

Kisah cinta juga akan turut ambil bagian dari cerita saya yang wajib kamu tahu. Mohon berjanjilah tidak tertawa mendengarnya. Tahukah kamu? Setiap saya jatuh cinta, dirimu rasanya dipenuhi bunga, padahal waktu itu kamu sedang kemarau. Berkali-kali juga saya dibunuh oleh cinta, tetap hidup kembali, setelah kamu sadarkan kalau di tanahmu banyak sekali seseorang yang pandai menaklukan hati.

Terimakasih Majalengka. (Foto: Tommi Pringadi/besoksenin.co)
Terimakasih Majalengka. (Foto: Tommi Pringadi/besoksenin.co)

Kamu adalah tempat di mana saya berani mulai bermimpi, meski patah sesekali, tetapi itu hanya sebagian kecil dari impian-impian yang kususun rapi, masih banyak harapan harus kutuntaskan satu persatu. Doakan, karena ini banyak yang berhubungan denganmu. Misalnya, tentang saya yang ingin membesarkan anak-anak di tempatmu, menghabiskan masa tua bersamamu, lalu mati dikubur dan abadi denganmu.
Terimakasih, tetaplah menjadi Majalengka yang saya suka, jangan berubah menjadi seperti Jakarta. Saya mencintaimu, dan sebisa mungkin turut menjagamu. (Tommi)

Facebook Comments

About Tommi Pringadi

Making history

Check Also

Rampak Genteng Jatiwangi Meriah, Begini Cerita Menakjubkan di Baliknya

besoksenin.co – Rampak Genteng Jatiwangi 2018 berlangsung meriah. Para warga dari penjuru Majalengka memadati lapangan …

Tinggalkan Balasan