Home > rubrik > besokbaper > Untukmu Senja di Kota Angin, Dari Aku di Kota Hujan
infomjlk

Untukmu Senja di Kota Angin, Dari Aku di Kota Hujan

infomjlk
sumber gambar: infomjlk

Gradasi jingga di langit senja selalu hadir istimewa di mataku. Semburat sinar mentari saat senja yang singgah di pelupuk mataku merupakan moment yang selalu aku nantikan. Terlebih lagi jika senja itu hadir di langit Majalengka. Di langit yang sama seperti ketika aku dilahirkan Mamaku 19 tahun silam. Langit Senja Majalengka yang bertepatan dengan Hari Raya Idul Fitri yang menjadi saksi bisu lahirnya seorang bayi perempuan yang begitu tergila-gila pada senja. Seolah ada magic hour saat mentari dan bulan saling menggantikan sesaat setelah lembayung senja hadir di langit yang jingga. Bercengkrama dan menghabiskan waktu berdua denganmu adalah moment paling bahagia dalam hidupku.

Di beranda rumahku, aku selalu menunggumu hadir menemuiku dan bergurau bersama menikmati secangkir kopi pahit yang berubah manis karena hadirmu. Senja, engkaulah inspirasiku memainkan diksi-diksi dalam bait-bait puisi. Engkaulah sumber dari segala tulisanku. Saat aku bersamamu, kebahagiaan dan kenyamanan ada dalam diriku hingga mood menulisku meningkat drastis dan pena di tanganku begitu mudahnya melenggok merangkaikan kata demi kata yang menghasilkan beberapa kalimat bermakna.

Senja, dulu begitu mudahnya kita bertemu dan bercengkrama. Tak pernah ada satu hari pun yang terlewatkan tanpa kebersamaan kita. Tapi itu dulu. Ya, dulu sebelum aku pergi meninggalkan kota ku. Sebelum aku merantau ke kota hujan karena urusan akademikku.   Disini, dari tanah rantau aku senantiasa menantimu. Menantikan kau kawan lamaku. Menantikan senja yang selalu membuatku bahagia setiap kali kita bercengkrama.

Senja, aku merindukanmu.

Namun setiap kali aku ingin menyapamu dari perantauan, hujan selalu menghalangi pertemuan kita. Maklum saja, kini aku tinggal di kota hujan dan hujan selalu pulang ke kotanya di sore hari. Senja yang ku rindukan tertutup awan hitam yang perlahan mengeluarkan air mata dan membasahi bumi.

Hujan. Hujan selalu datang disaat aku ingin bertemu senja. Hujan seolah menjadi pihak ketiga antara aku dan senja hingga akhirnya aku terbiasa dengan hujan dan sedikit melupakan senja. Rupanya yang istimewa mulai dapat tergantikan dengan yang selalu ada.

Hujan mendesah di tepian beranda dan mengetuk jendela kamarku. Mengajakku bermain dan menikmati rintiknya yang turun perlahan mengecup tanah dan menghadirkan aroma ketenangan. Hujan mengingatkanku untuk membawa payung sebelum aku menemuinya karena ia tak ingin aku basah kuyup karena dipeluk tubuhnya. Ia tak ingin aku sakit. Waah perhatian sekali dia padaku.

Aku suka dengan suara gemerincik hujan yang menyentuh payungku, kita bercengkrama dengan tenang. Ada satu hal yang tak ku suka dari hujan. Aku tak suka jika hujan datang bersama kedua temannya, petir dan guntur. Apalagi jika petir dan guntur berkejaran mengejar hujan yang sedang menari di atas awan. Aahh aku tak suka.

Walau hujan sedikit menggantikan senja di hatiku, tapi ia tak sesempurna senja.Cintaku pada hujan hanyalah sebuah cinta yang semu. Sejatinya hatiku tetap jatuh di satu hati, senja.

Walau entah sampai kapan aku harus menunggumu kembali menyapaku. Apa ini pertanda aku harus pulang ke kota angin? Agar aku bisa bercengkrama dengan senja sehangat percakapan kita tempo dulu.

Untukmu senja di kota angin, dari sini aku merindukanmu.

Berulang kali merindukanmu dan tak pernah bosan. Bahkan dengan lancangnya rindu itu menyelinap diam-diam memenuhi rongga dadaku dan bersemayam di lubuk hati yang terdalam.

Senja di kota angin begitu sempurna hingga aku tergila-gila menggilainya. Semoga aku tak jadi gila karena merindukan hadirmu.

Senja, semoga jarak dan waktu cepat mempertemukan kita. Banyak hal yang ingin aku ceritakan padamu. Senja, walau hingga kini kita belum dipertemukan, tapi aku selalu memelukmu dalam doa. Baik-baik kau disana.

 

Salam Senja,

 

(Lembayung Senja)

Facebook Comments

About Fitri Kinasih Husnul Khotimah

Aku adalah sepenggal diksi yang siap kau jadikan puisi.

Tinggalkan Balasan