Home > rubrik > besokbaper > Untukmu yang Memilih Menikah Duluan
Pada suatu malam saya mendapat kabar kamu bakal menikah via Pixabay

Untukmu yang Memilih Menikah Duluan

Untukmu yang memilih menikah duluan via Pixabay

besoksenin.co – Ini tentang saya yang menempelkan fotomu di cermin, sehingga setiap pagi sebelum beraktivitas, saya bisa memberi penghormatan, layak kamu adalah Sang Saka, lalu berkata “Tunggu, saya akan menjemputmu segera!”. Ini tentang saya yang menjadikan fotomu sebagai wallpaper di ponsel, sehingga saat saya keletihan bekerja, saya menatapnya lalu mengatakan pada diri sendiri seorang putri jelita tengah menunggu saya, ajaibnya selepas itu, entah bagaimana, saya selalu dipenuhi energi.

Masih jelas di kepala, saat kita tak sengaja berpapasan dengan Ibu saya yang kebetulan sedang bersama keponakan berusia 2 tahun. Meski saya sempat memberi isyarat agar kamu sembunyi saja, tapi malah memilih menyalami ibu saya, dan tentu saja mencoba mengambil hati keponakan saya. Ibu saya memberikan kode tentang siapa perempuan cantik dihadapannya, saya hanya bisa diam. Saat sedang berpikir mencari apa jawaban yang pas, ajaibnya keponakan saya sudah berpindah tangan dan berada di pangkuan kamu, bahkan terdengar juga cekikikan tawa darinya. Itu luar biasa, bagaimana mungkin, keponakan saya yang rewel dan tidak mudah akrab dengan orang baru, yang karakternya terkenal seseantero tetangga, bisa begitu mudahnya dekat dengan kamu? Saat di rumah, ibu memberi isyarat seolah bilang “Ibu setuju sama yang ini.”

Saya menjadi berani membawamu ke rumah, saat itulah keponakan dan bibi saya yang lain memergoki kita. Lagi-lagi, kamu bisa dengan mudah mengambil hati mereka lewat dengan mudahnya disukai oleh keponakan saya. Mulai sejak itulah, saya sering digodai oleh keluarga besar, bahwa saya si brengsek beruntung mendapatkan perempuan sebaik kamu. Tentu, ini bukan tentang keponakan lagi. Mereka suka kamu, mulai dari ketika membantu ibu di dapur, sampai cara kamu berbicara dengan mereka, mereka suka semua hal darimu! Bahkan bapak yang sedari dulu mewanti-wanti agar menjauhi perempuan demi mengejar prestasi, malah sering menanyakan kamu ketika weekend tak ada ke rumah.

Ketika orang lain saja begitu mudah menyukaimu, maka tak perlu tanyakan lagi bagaimana perasaan saya. Hubungan kita terus berlanjut, dan menjalani hari-hari bersamamu hanya membuat saya semakin mencintaimu, setiap hari adalah pelangi, tak ada satu pun ukuran di bumi yang sanggup mengukur bagaimana rasa syukur dan diberkati saya memilikimu.

Dalam perjalanannya, saya bisa mudah menebak apa yang ada dalam diri kamu sebelum kamu memberi tahunya. Kamu bilang saya ajaib, dan setiap perkataan saya bak kutukan yang selalu menjadi kebenaran. Padahal saya hanya orang yang gemar mengoleksi hal-hal tentangmu, memasuki duniamu, stalking setiap media sosialmu. Cara kerjanya mirip big data, contohnya Google yang mampu memberikan suggestion akurat, karena mempelajari apa pencarian dan kata kunci kamu sebelumnya.

Hingga kita sampai pada satu titik: kamu mantap untuk pergi ke Bandung setelah lulus, mengikuti Ayahmu, sementara saya masih bingung. Maka kita memutuskan satu hari untuk ekspedisi kenangan: mengunjungi tempat-tempat di Majalengka yang pernah kita kunjungi. Saat kita selesai dan hanya tinggal pulang, kamu memeluk saya begitu erat, padahal motor sengaja saya pelankan agar waktu bersama lebih lama, lalu setelah itu, kamu membanjiri punggung saya dengan air mata, tumpah ruah hingga membuat baju bagian belakang saya basah. Punggung saya terasa hangat, bau air mata, dan ironi, namun saya dapat merasakan bagaimana sedihnya kamu bakal kehilangan saya, aliran tulus perasaan antara dua tubuh. Sambil terisak kamu mengatakan agar saya segera menjemputmu, lalu kita bersama selamanya, tanpa harus ada kata pisah lagi seperti ini. Kamu dan saya saling mencintai begitu dalam, lalu apalagi? bukankah kita hanya perlu menikah? Namun itu masih hanya sebatas pikiran.

Kamu meninggalkan Majalengka, dan saya yang merasa asing dengan kota yang tanpa ada kamu di dalamnya. Saya mencoba menciptakan formula dengan terus membayangkan bagaimana bahagianya saya, andai bisa dekat dengan kamu lagi. Ajaibnya, itu bekerja, kamu memang sumber keajaiban saya. Sebulan setelah kamu pergi, saya juga berhasil hidup di Bandung. Waktu itu, kita suka cita merayakannya dengan kamu yang menunjukkan tempat-tempat kenangan masa kecilmu di Bandung. Di tempat-tempat itulah kita seringkali bertemu anak kecil, lagi kamu menunjukkan sentuhan magismu dengan menaklukkan mereka. Tak peduli apa pun yang sedang kita lakukan, jika ada anak kecil, maka saya kamu acuhkan, ini satu-satunya diacuhkan yang membahagiakan. Saat itu saya baru sadar kamu punya obsesi ke semua anak kecil, bukan hanya keponakan saya, kadang-kadang kamu bilang “Anak orang aja aku gituin, gimana kalau anak sendiri, kan?” sambil menatap dalam mata saya. Atau di lain kasus, kamu menunjukan perhitungan angka usia menikah “Kalau kita terlalu tua menikah, kita punya risiko keburu meninggal saat anak menikah.” Yang paling menyentuh, ketika kamu meminta saya mengucapkan akan menikahimu, “Apa yang kamu katakan selalu menjadi kenyataan, jadi tolong katakan kamu akan menikahiku!” saya mengiyakan, walaupun sesuatu dengan kata kunci seperti menikah mungkin tidak ada di kotak hasil pencairan.

Seperti pasangan lainnya, kita juga sering bertengkar, namun seiring bertambah usia hubungan, itu bisa terjadi karena hal-hal sepele. Sampai pada satu titik, ketika kamu meminta jeda.

“Kita hanya berpisah sementara, kita bakal bertemu lagi dengan keadaan sama-sama sudah siap, mental materi dan sebagainya,”

Saya pulang ke Majalengka, lalu berangkat lagi ke Bekasi demi mengumpulkan rupiah lebih banyak untuk segera menjemputmu lagi, memperbaiki kesalahan. Ritual menatap fotomu di cermin dan ponsel berawal di sini.

Pada suatu malam saya mendapat kabar kamu bakal menikah via Pixabay

Pada suatu malam, saya dihubungi teman yang juga sahabat kamu. Ia menanyakan apa saya akan pergi ke pernikahanmu? Lalu saya mencoba mengecek itu lewat media sosial, nyatanya kamu memang mengunggah undangannya di instagram pribadi. Tebak apa yang saya lakukan saat melihat foto akad nikahmu? Saya tidak melakukan apa pun, seolah tulang belulang saya ditarik dari tempatnya. Walaupun akhirnya bisa bangun, mengasihani diri sendiri di cermin, menyobek fotomu, lalu meninju cermin itu berkeping-keping. Saya melihat bayangan diri sendiri retak, kemudian lenyap. Saya melempar handphone saya, membiarkan fotomu menghitam.
Saya membayangkan saat itu kamu pasti sedang terbagi, berkata “Kamu tidak bisa selamanya benar, apa yang kamu ucapkan tidak serta merta menjadi kenyataan, Tommi kamu bukan Tuhan! Akhirnya kamu bisa salah juga!”.

Dari keseluruhan di atas, terlihat kamu seperti antagonis, sebenarnya kamu heroine dalam cerita ini. Banyak hal yang saya skip, agar tulisan ini tidak terlalu panjang. Yang jelas, kamu telah memberikan begitu banyak kesempatan, kamu sempat beberapa kali percaya bahwa saya bisa berubah, namun saya tetap berada dengan kebodohan, terlalu merasa aman, tidak bisa menjaga, membiarkanmu memilih pergi, dan segala kesalahan pria lainnya.

Saya terus mengingatmu di temani tiap kaleng minuman, perlu banyak sekali waktu untuk bertemu dengan kesadaran: kalau kamu sudah benar-benar pergi, dan tak ada lagi yang disebut harapan. Butuh lama sekali waktu untuk membuat saya menerima kenyataan, berdamai dengan Tuhan, kalau saya nyatanya adalah hamba brengsek yang sama sekali belum berhak menjaga perempuan sebaik kamu. Butuh melewati puluhan malam yang dingin, sampai pada satu malam berada di titik sadar: bahwa pria yang kamu pilih itu lebih baik dalam segala hal dari saya, ia bisa mewujudkan segala impianmu, ia bisa membuat menjadi ibu muda, sesuai apa yang kamu impikan sejak SMA.

Facebook Comments

About Tommi Pringadi

Making history

Check Also

Ketika Mantan Nikah Duluan, 12 Sikap Ini yang Harus Kamu Lakukan

besoksenin.co – Jangankan bagi yang belum berhasil melupakan, bagi yang sudah move on saja, mendapat …