Kategori
besokkemana opini rubrik Terbaru

5 Hal yang Harus Diperhatikan Agar Wisata Majalengka Dilirik Wisatawan

Panyaweuyan
Panyaweuyan via @hens4am

besoksenin.co – Menyebut Majalengka sebagai destinasi wisata menurut saya terlalu gegabah. Tidak ada yang menyangkal bahwa keindahan Majalengka ibarat kembang desa yang mulai merekah. Indah. Namun, apakah cukup dengan keindahan saja lantas Majalengka disebut destinasi wisata? Analogi sederhananya; apakah semua orang cantik bisa dikatakan model?

Jawabannya tentu sama dengan pertanyaan “Apakah semua jomblo gak bahagia?”

“ENGGAK”.

Ada beberapa hal yang bisa membuat suatu tempat yang indah ataupun potensial disebut destinasi wisata. Mengutip buku Kebijakan Pembangunan Destinasi Wisata karya Sunaryo, untuk mengembangkan suatu daerag menjadi destinasi pariwisata adalah :

1. Objek daya tarik wisata (attraction)

Daya tarik wisata bisa terbagi menjadi dua, yakni daya tarik wisata ciptaan Allah SWT dan keindahan alam hasil karya manusia. Ibarat cewek mah, ada yang cantik natural tanpa make up dan ada yang cantik menggunakan make up. Keduanya, Majalengka punya. Panyaweuyan, Curug Sawer, dan Curug Muara Jaya adalah contoh daya tarik wisata ciptaan Allah SWT. Sedangkan konser kampung Jatitujuh dan Jatiwangi Art Factory adalah contoh daya tarik wisata hasil karya manusia.

Untuk point nomor satu ini, Majalengka tidak ada masalah karena memiliki daya tarik wisata yang melimpah.

Daya tarik wisata bisa terbagi menjadi dua, yakni daya tarik wisata ciptaan Allah SWT dan keindahan alam hasil karya manusia. Ibarat cewek mah, ada yang cantik natural tanpa make up dan ada yang cantik menggunakan make up.

2. Aksesibilitas yang mencakup kemudahan sarana dan sistem transportasi.

Curug Muara Jaya
Curug muara jaya via @ubech91

Aksesibilitas merupakan salah satu faktor yang menjadi tolak ukur kenyamanan suatu destinasi wisata. Sejauh ini, akses kendaraan untuk tempat wisata seperti Panyaweuyan, Curug Muara Jaya, Paralayang ataupun Paraland sudah bisa diakses menggunakan roda dua dan roda empat. Namun, masalahnya kendaraan umum yang menjangkau ke daerah tersebut masih terbatas.

Misalnya kendaraan umum ke Paralayang jika dari arah Bandara Internasional Kertajati berarti dua kali naik angkot plus satu kali naik ojeg. Itupun belum tentu semua orang mengetahuinya. Angkutan online yang bisa diandalkan pun belum sampai ke beberapa tempat wisata. Coba saja sobat bsco cari ojeg online di daerah Panyaweuyan, hasilnya nihil.

3. Amenitas yang mencakup fasilitas penunjang dan pendukung wisata.

Amenitas adalah berbagai fasilitas di luar akomodasi yang dapat dimanfaatkan wisatawan selama berwisata di suatu destinasi. Bisa  berupa fasilitas pariwisata seperti rumah makan, restoran, toko cenderamata, dan fasilitas umum seperti sarana ibadah, kesehatan, taman, tempat mencug dan lain-lain.

Mari kita lihat keadaan di beberapat tempat wisata Majalengka. Ambil contoh paralayang, di sana memang ada tempat makan, tempat ibadah, dsb. Namun, dalam sudut pandang saya, itu masih kurs (kurang). Jika kita bandingkan dengan tempat wisata yang ada di Bandung, akan terasa bedanya.

Keren! Pasiroleole, Objek Wisata Baru di Bantarujeg yang Lagi Hits di Zaman Now, Ternyata Berkat Para Pemudanya

4. Fasilitas umum (Ancillary Service) yang mendukung kegiatan pariwisata.

Fasilitas ini mengarah kepada ketersediaan sarana yang digunakan oleh wisatawan untuk kenyamanan ataupun kemudahan ketika berwisata. Contohnya adalah mesin ATM, pembayaran menggunakan debit card, ataupun fasilitas kesehatan terdekat.

Di Majalengka, nampaknya hal ini belum terlalu diperhatikan. Asal ada tempat foto yang bagus, banyak orang berkunjung, beberapa hari kemudian akan ada tukang parkir yang berjaga di sana, maka bertransformasilah tempat tersebut menjadi tempat wisata. Untuk sekedar masyarakat lokal, mungkin hal itu cukup. Namun jika wisatawan yang datang dari luar kota, luar negeri, ataupun luar angkasa, maka hal ini harus segera dibenahi.

5. Kelembagaan yang memiliki kewenangan, tanggung jawab, dan peran dalam mendukung terlaksananya kegiatan pariwisata.

Tujuan adanya kelembagaan yang memegang suatu tempat wisata adalah agar jelas siapa yang bertanggung jawab, baik dalam hal pengembangan, promosi, maupun pembuatan regulasi dan prosedur. Kelembagaan di sini bukan hanya institusi pemerintah ya, sob. Bisa juga dari pihak swasta, di Majalengka contohnya adalah Paraland.

Kita harus mengakui bahwa Majalengka memiliki keindahan alam yang tak perlu lagi diragukan, namun jika belum bisa mengemasnya dengan maksimal, hasilnya ibarat seseorang yang memiliki bakat namun tidak pernah dikembangkan. Siap-siap tergerus oleh perkembangan zaman.

Oleh Riza D. Januar

Cowok yang berwajah susah | Susah dilupain