Kategori
besokeling opini rubrik

Merasa Bahagia dengan Kehadiran Bandara Internasional di Majalengka? Pertimbangkan Dulu Ini!

besoksenin.co – Kita sudah memasuki detik-detik rampungnya Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati, sedikit besar lahir euphoria di dalam benak kecil kita, bagaimana mungkin, kota yang bahkan dahulu orang tidak tahu di mana, sekarang dipilih untuk lokasi Bandara Internasional? Bukankah ini membanggakan, dan suatu hal yang mesti kita rayakan? Sementara di tempat yang lain, para politikus sibuk mencari kursi, tentang pengaruh siapa yang bisa menghadirkan BIJB di kota kita. Setelah kita memahami beberapa hal berikut, agaknya kita perlu untuk merevisi sikap kita, dan para politikus itu harus ragu untuk berkacak-pinggang.

Pada suatu sore yang mendung, dan ditemani dua gelas kopi, selepas interview saya dengan Illa Syukrillah (salah satu narasumber untuk materi pemberitaan), kami sempat tidak sengaja menyinggung, lalu sedikit berdiskusi tentang Bandara Internasional di Majalengka. Pria yang akrab disapa Kadus Illa ini menyebutkan bahwa sebenarnya Majalengka justru sedang terancam, sambil pelan menengguk kopinya, beliau menganalogikan pada sebuah kawasan di bantaran sungai, sebut saja Desa Konoha, mereka hidup sejahtera karena bisa memproduksi aneka kerajinan kayu, hingga pada satu titik tertentu mereka sampai pada kesadaran harus membangun jembatan, agar bisa menjual kayunya ke luar, agar bisa mendapatkan bahan baku (kayu) dari luar. Jembatan itu pun dibangun, dan dari kesadaran penduduk Konoha sendiri. Dalam konteks sekarang, jembatan tadi adalah bandara.

Pria yang akrab disapa Kadus Illa ini menyebutkan bahwa sebenarnya Majalengka justru sedang terancam

Lalu, kepala saya mengingat kejadian di Eropa pasca pecahnya Revolusi Industri, selepas Colombus dan kawan-kawan menemukan dunia ketiga, kawasan pasifik, bukankah ini jadi ide bisnis seperti yang orang-orang Konoha pikirkan tadi, dan celakanya malah berkembang menjadi kolonialisme. Dan ya, orang-orang Eropa itu mulai berlomba membuat kapal-kapal besar (suatu insfrastruktur yang bisa membantu mereka mencapai tujuan, bukankah dalam hal ini, bisa disamakan dengan fungsi Bandara sekarang?) termasuk Belanda, melalui Cornelis de Houtman, yang pada akhirnya menjajah negara kita.

Saya sempat terhentak beberapa saat dengan analogi tersebut, lalu mencoba memikirkan, apa Bandara ini dibangun atas kesadaran orang-orang di dalam Majalengka (seperti latar belakang orang Konoha membangun jembatan di atas)? Mengingat berapa jumlah warga kita yang punya kepentingan di luar negeri, atau setidaknya yang mampu membeli tiket pesawat untuk banyak rute perjalanan jauh per tahun, tentu sangat sedikit jumlahnya. Jawabannya, adalah bukan kita yang membutuhkan Bandara, melainkan golongan lain yang membutuhkan Bandara agar dapat menyentuh kawasan kita, bukan? Kita ada di posisi Indonesia, dan mereka Belandanya! Dari sini, jelas terlihat, pihak mana yang diuntungkan untuk menyerang, dan pihak mana yang sedang terancam.

Mengapa kita harus merayakan sebuah ancaman untuk diri sendiri? Jelas, euphoria tadi adalah euphoria palsu, ironi!

Bukankah mentalitas kita yang seperti ini, mengingatkan ketika kedatangan Jepang, dan kita menyambut mereka sebagai pahlawan yang bisa mengusir penderitaan yang dihadirkan Belanda? Mereka memang menuntun kita keluar dari satu penderitaan, tapi sekaligus memasukan kita pada penderitaan yang lain. Kita boleh memandang Bandara sebagai Pahlawan untuk Majalengka yang dulunya tidak dikenal, tapi jangan lupakan tentang kemungkinan bisa jadi Bandara juga memasukan kita ke dalam penderitaan yang lain.

Mari menelisik kepentingan apa yang golongan itu inginkan dari Majalengka, beberapa orang bisa menjawab tenaga kerja murah. Beberapa diantara kita menyambut sukacita, termasuk para politikus tadi, tentang ribuan lapangan pekerjaan yang bakal hadir di Majalengka. Di saat yang sama, Nike sering didemo besar-besaran di negara asalnya, karena mempekerjakan buruh dengan upah yang terlalu rendah. Ini sebuah ironi yang lain lagi, bukan? Mengapa kita merayakan penderitaan teman-teman, saudara kita yang akan diperlakukan tidak adil oleh perusahaan, dalam hal ini kapitalisme?

Yang perlu jadi catatan juga, kita sama sekali tidak boleh untuk mengambil sikap membuat bentuk perlawanan, esktrim–anti-konsumerisme–anti-kapitalisme. Contohnya, para anti-kapitalisme di AS membuat sebuah gerakan, lalu pada akhirnya mereka mengeluarkan produk sepatu, dengan tagline, “Sepatu ini dibuat oleh buruh yang dipekerjakan secara fair,” menjadi naif, kan? Ketika kita mulai mempromosikan “Dukung Product Lokal Majalengka!” tanpa sadar, sebetulnya, kita sedang menciptakan kapitalisme untuk melawan kapitalisme.

Kurt Cobain via Instagram @kurtcobain

Sepertinya, kita perlu kembali pada April 1994, ketika Kurt Cobain ditemukan tewas, ia menenggak heroin dengan dosis besar, dan menembak pelipisnya sendiri. Cobain tersiksa bertahun-tahun, karena tak pernah mampu mendamaikan komitmennya tentang musik alternatif dan popularitas besar yang (tidak sengaja) didapatkan. Ia menganggap dirinya pengkhianat, melacurkan diri, dan ikut arus. Padahal Cobain membuat musiknya sebagai bentuk perlawanan dari musik arus utama, kebencian pada orang-orang hippies. “Punk Rock adalah kebebasan!” selalu bergema di dalam hatinya.

Siapa yang membunuh Kurt Cobain? Dalam satu pandangan tertentu, Cobain-lah yang membunuh Cobain. Namun ia sendiri juga seorang korban dari gagasan palsu, bahwa sebenarnya tak ada yang disebut alternatif, tak ada arus besar, dan tak ada hubungannya musik dengan kebebasan. Jadi dari mana ia menemukan ide orang harus tidak jadi terkenal? Dari mana kita menemukan ide untuk tidak menggunakan teknologi (yang sebagian besar kita mengganggap sebagai produk dan alat kapitalisme), untuk bisa jadi otentik?

Walaupun begitu, ketika ditanya apa kita harus bahagia dengan kehadiran Bandara Internasional di Majalengka? Saya akan menjawabnya dengan “Tidak!”, kalau kamu bagaimana? Atau, ada saran lain bagaimana kita seharusnya bersikap pada kehadiran Bandara?

40 tanggapan untuk “Merasa Bahagia dengan Kehadiran Bandara Internasional di Majalengka? Pertimbangkan Dulu Ini!”

We stumbled over here by a different page and thought I should check things out. I like what I see so now i am following you. Look forward to going over your web page for a second time.

Wow, amazing weblog structure! How long have you been blogging for? you make blogging glance easy. The full glance of your site is magnificent, let alone the content!

Ultimately, an issue that I am passionate about. I ave looked for details of this caliber for that very last numerous hrs. Your website is significantly appreciated.

Tinggalkan Balasan