Jangan-Jangan Kebudayaan Jatiwangi Bukanlah Genting?

Jangan-jangan kebudayaan Jatiwangi Bukanlah Genting? doc Julian Abraham

besoksenin.co – Genting dan Jatiwangi adalah dua kata yang bersandingan, lekat, tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Serupa bulan puasa dan ngabuburit. Namun, jangan salah, ternyata kebudayaan Jatiwangi bukanlah genting.

Hari ini kami dikenalkan pada Mang Dadang, dan Mang Ade untuk sebuah pembuktian. Keduanya bekerja di Jebor milik Illa Syukrillah Syarief, teman kami. Keduanya pun sudah aktif di dunia per-jebor-an sejak lama. Eksperimen ini dimulai ketika mereka ditanya soal pergentingan, seperti “Apa perbedaan genting Palentong dan Morando?” atau “Tahukah kamu berapa ukuran genting Morando?” dan pertanyaan-pertanyaan lain seperti sistem modular. Baik Dadang maupun Ade, menjawab pertanyaan ini dengan terbata-bata. Beberapa kali mulut mereka mengatup lalu tertutup kembali, terlihat jelas mereka tidak yakin pada jawaban mereka sendiri.

Eksperimen kedua, Illa menanyakan pertanyaan-pertanyaan menyangkut tanah. Pertanyaan seperti “Apa perbedaan tanah liat yang kehitaman dan tanah liat yang kemerahan? Bagaimana efeknya?” Mengejutkan, Dadang dan Ade bisa menjawab dengan fasih.

Dengan senyum merekah, Illa melirik ke arah kami, “Lihat, pengetahuan kami soal tanah lebih dominan, kan?” beberapa saat hening, lalu ia melanjutkan, “Orang Jatiwangi lebih fasih tentang tanah, bukan genting. Mereka bisa menjelaskan jenis-jenis tanah, tapi kami nggak tau bentuk-bentuk genting, apa keunggulan dari masing-masing bentuk tersebut.”

Illa mencoba meyakinkan kami sekali lagi, dia menceritakan pernah dibantu atau memperkerjakan seseorang yang bukan berasal dari Jatiwangi untuk bekerja di jebornya. Pria yang akrab disapa Kadus Illa ini mengaku begitu kerepotan ketika bekerja-sama dengan orang non Jatiwangi, terutama soal komunikasi. “Ketika saya meminta diambilkan empleng dari tatakan, dia malah menganga, dia tidak tau apa itu empleng, apa itu tatakan.”

Baca juga: https://besoksenin.co/sebuah-mimpi-merdekanya-jatiwangi-yang-didukung-wabup-majalengka-dan-nasib-pabrik-genteng/

Mendengar penjelasan ini kami mulai mengerti, sebab Bahasa dan kebudayaan adalah dua hal yang berhubungan, yang bersifat koordinatif. Menurut Benjamin Lee Whorf, penutur Bahasa akan memandang dunia secara berbeda sepanjang bahasa yang mereka pergunakan berbeda. Jika penutur suatu bahasa memiliki kata-kata tertentu untuk memberikan benda-benda sedangkan penutur bahasa yang lain tidak memilikinya dengan cara yang sama, maka penutur bahasa yang pertama akan lebih mudah berbicara tentang benda-benda tersebut.

Foto Ahmad Sujai

Ternyata genting memang kebudayaan, tetapi genting hanyalah salah satu menu dari kebudayaan tanah di Jatiwangi.

“Ilmu yang dikuasai justru tentang tanah. Pengetahuan yang tumbuh bukanlah tentang gentingnya. Tumbuh ngamolen, cara membuat, cara membakar, itu semua adalah teknik tanah,” Tutup Illa.