Kampung Terpencil di Majalengka yang Ingin Go Internasional, Begini Pengalamanku Datang ke Kaputren

Begini pengalamanku datang ke Kaputren, foto Champoet Indonesia

besoksenin.co – Ha? Internasional? Kampung terpencil mau dikenal mancanegera?

Sering bertemu dengan Kang Amin Halimi, namun baru kali ini saya datang ke kampungnya di Kaputren. Menumpang dan berangkat bersama Kang Eman Saung Eurih, entah bagaimana saya bisa datang ke tempat seperti ini. Di dalam mobil nyaris tak ada pemandangan yang bisa dilihat, seakan kami ini menuju tempat antah berantah. Pun ketika sampai di Kaputren, kami tak melihat tanda-tanda ada acara. Berjalan kaki agak jauh, kami sempat berpapasan dengan remaja-remaja yang berdandan rapih, memakai sepatu, ala mau nonton konser. “Mungkin jambore Champoet bersamaan dengan konser reggae,” pikir saya dalam hati.

Berjalan kaki 7 menit, kami berada di lokasi acara. Gelap, tempat asing, namun bukan ini yang membuat merinding, melainkan saat sadar kalau acara ini ternyata dihadiri oleh banyak sekali orang. Mojang, Ibu-ibu muda, nenek renta sudah duduk berbaris rapih. Beberapa diantara mereka membawa hihid (kipas dari bambu), sambil makan kacang rebus. Pemandangan ini membawa saya nostalgia ke nonton layar tancap di kampung sendiri, lebih dari satu dekade yang lalu. Iklim di Jatitujuh memang panas, tak terkecuali di malam hari.

Sementara bapak-bapak duduk melingkar, para anak muda menyebar di belakang. Mereka duduk anteng sambil makan kacang rebus. Acara dibuka oleh anak-anak yang menarikan tari-tarianan tradisional, yang diselingi oleh lalu-lalang warga yang satu per-satu mendekat, mengisi kardus dengan duit. Mereka ingin menyemangati anak-anak itu. Yang membuat merinding adalah ketika mendapati para anak muda, kedapatan sedang membuat instastory, hingga live di media sosial. Ternyata remaja yang memakai sepatu tadi, mereka datang ke sini.

Dari awal, backdrop dari panggung menyita perhatian saya, tertulis Jambore Champoet Indonesia ke-11, belakangan diketahui ketika Ketua Panitia menjelaskan soal ini. “Kalau Kaputren, kalau Putri Dalem terlalu kecil. Makanya Indonesia, kita ingin menjadi besar, kita ingin go internasional,” jelas Kusnadi, Ketua Panitia.

“Tetap semangat, sampai Kaputren sampai Putri Dalem, bisa go international!” begitulah kata Bu Kuwu Putri Dalem, mengamini Kusnadi. Yang langsung diberi tepuk tangan meriah oleh warga yang hadir. Mereka bersorak, mereka mengepalkan tangan. Saya menengok ke kiri ke kanan, nampak jelas dari wajah mereka bahwa itu bukan impian kosong, nampak jelas mereka memang meyakini itu. Berbicara mengenai internasional, sebenarnya Kaputren dulu sempat terkenal dengan kampung bambunya, hingga ada band yang seluruh instrumennya terbuat dari bambu. Champoet Indonesia sendiri adalah sebuah komunitas, “Kami selalu ada, hanya saja namanya aja yang berganti-ganti,” jelas Amin.

Acara berlanjut dengan diskustik yang dipandu oleh Pak Iman Sabumi. Acara ini diisi oleh nama-nama besar Aktivis dan Budayawan Majalengka, Ketut Imanudin, Eman Kurdiman, dan Arief Yudi. Diskusi berlangsung syahdu, apalagi gayung bersambut ketika Om Ketut Imanudin berkata, “Kebetulan Wa Arief Yudi akan ke Jerman dan mempromosimakan 12 Desa, salah satunya bisa jadi adalah Desa Putri Dalem,” yang langsung dibalas oleh tepuk tangan meriah. “Bukan perkara sulit untuk Kaputren go internasional, sebab sudah menjadi penerima tamu yang baik,” ucap Arief.

Konon, manusia akan bergerak karena dua hal; ancaman di belakang, atau impian masa depan atau kombinasi keduanya. Saya bisa bergerak karena dikejar anjing, atau mengejar gebetan. Alih-alih ketakutan, tergesa-gesa. Kang Amin, Kusnadi, dan seluruh masyarakat Kaputren memilih opsi ke dua, mereka bergerak dengan berbahagia.