Kategori
besokbaper

Kebersamaan Kita adalah Fana. Aku Takut, jika Esok atau Lusa Allah akan Memanggil Salah Satu di antara Kita

Harta yang paling berharga adalah keluarga
Istana yang paling indah adalah keluarga
Puisi yang paling bermakna adalah keluarga
Mutiara tiada tara adalah keluarga

Harta yang paling berharga adalah keluarga

Istana yang paling indah adalah keluarga

Puisi yang paling bermakna adalah keluarga

Mutiara tiada tara adalah keluarga

Kebahagiaan tiada tara saat berkumpul bersama keluarga, via satumedia.net

Besoksenin.co – Kutemukan suatu kebahagiaan, kedamaian, dan kehangatan dalam keluargaku. Tak ada tempat yang paling indah yang memberiku kenyamanan selain rumah, tak ada tempat yang paling mewah yang memberiku kedamaian selain rumah. Karena di tempat inilah aku dibesarkan, dan di tempat inilah aku merasakan kebahagiaan.

Aku sangat sangat sangat bersyukur karena Allah telah menakdirkanku terlahir dari rahim seorang ibu yang istimewa dan menjadi seorang putri dari seorang ayah yang juga sangat istimewa. Mereka adalah dua malaikat penjaga yang selalu siap siaga melindungiku dari segala macam marabahaya. Tak kalah istimewanya, Allah pun mengirimkan dua malaikat kecil yang kini telah tumbuh menjadi seorang remaja. Dengan keempat malaikat yang Allah hadiahkan kepadaku, semakin bertambah lengkaplah kebahagiaanku.

Masa kecil adalah momen paling berharga karena bisa sering-sering kumpul dengan keluarga, via www.gravid.se

Sore hari adalah waktu yang paling aku tunggu-tunggu. Karena di saat itulah kita bisa berkumpul untuk berbagi cerita. Warna-warni canda yang dilontarkan semakin menambah kehangatan. Meski kini kita sudah tak serumah, meski kini kita berada di tempat dan di kota yang berbeda. Namun kita selalu menyempatkan waktu untuk tetap bertemu. Itulah kita. Kita yang kemana-mana selalu bersama. Malam minggu pun jalan-jalan berlima.

Tapi tiba-tiba aku tersadar, bahwa dunia itu fana. Kebersamaan kita saat ini juga fana. Sungguh, aku tak sanggup membayangkan jika suatu hari nanti Allah memisahkan kita. Suatu hari nanti Allah akan memanggil kita satu per satu. Dan itu pasti, karena setiap yang bernyawa pasti akan mati. Untuk itulah kenapa aku selalu menyempatkan dan memaksakan diri untuk pulang ke Majalengka. Meski jarak kita terpaut cukup jauh. Meski aku harus menempuh perjalanan selama 5 sampai 6 jam, meski aku harus melewati beberapa kota dengan kemacetan yang lumayan panjang, atau panas dan sumpeknya berdesak-desakan di mobil umum.

Aku selalu berpikir, selagi masih ada umur, selagi masih ada kesempatan, kenapa enggak? Aku selalu merasa takut, jika esok atau lusa Allah akan memanggil salah satu di antara kita. Jadi aku pengen puas-puasin waktu yang aku punya buat ketemu dan berkumpul bersama keluargaku. Terlepas dari semua kekhawatiranku, semoga Allah akan mengumpulkan kita kembali di surga-Nya nanti. Aamiin.

Tinggalkan Balasan