Kategori
besokbaper rubrik

Saat Hatiku Sudah Menjadi Es Batu, Mampukah Kau Menjadi Sosok Mentari yang Mempercepat Proses Pencairannya?

besoksenin.co – Jika ku ibaratkan hatiku seperti es, sepertinya es itu telah menjadi es batu. Sudah sulit untuk dicairkan, kecuali ada mentari yang datang, lalu mengetuk pintu hati itu, dan menghangatkan hati itu dari dekat. Ya, Sosok mentari itu datang mengetuk pintu hatiku dengan mendatangi ayahku untuk memintaku padanya sehingga mau tak mau aku pasti membuka pintu hatiku secara perlahan hingga akhirnya ku izinkan kau masuk sepenuhnya saat akad diucapkan di depan ayahku dan penghulu serta disahkan para saksi.

Sosok mentari yang melelehkan es batu via pexels

Mampukah kau menjadi sosok mentari itu?

Aku tahu ini khayalan tingkat tinggi, tapi ku yakin itu adalah cara paling romantis dari bukti keseriusanmu sebab aku sudah bosan dengan segala bentuk permainan hati yang ujungnya menyebabkan hati itu patah. Aku sudah bosan bermain-main dengan kata cinta yang seenaknya dipermainkan. Aku juga sudah jemu dengan kata pacaran yang ujungnya pasti putus, dan sejujurnya aku menyesal pernah mengenal yang namanya ‘pacaran’ di usiaku yang masih begitu belia. Ahh, dasar cinta monyet.

Satu hal yang harus kau tahu jika kelak kau menjadi Mentariku. Aku memilih untuk membiarkan hatiku jadi es batu, bukan tanpa sebab. Aku biarkan hatiku seperti es batu biar ia tak lagi merasakan perihnya luka, setidaknya es batu bisa menyamarkan nyeri yang dirasa, kan? Walau sebenarnya perihnya luka itu tak benar-benar sembuh, sebab luka di hati begitu sulit untuk pulih.

Mentariku (kelak) via pexels

Mentariku (kelak), pasti kau bertanya

memangnya sedalam apa luka di hatimu?

Jawabannya, sangat dalam. Bahkan begitu dalam sebab aku menyertakan cinta yang teramat dalam sebelum akhirnya kisah itu dikhianati dengan kehadiran orang ketiga. Orang ketiga yang merubah semua alur dalam cerita itu, Ia datang tiba-tiba lalu merayu lelaki itu hingga akhirnya ia mengkhianatiku dengan selingkuh di belakangku, dan saat itulah hatiku hancur luluh lantah bak gelas pecah yang pecahannya menyebabkan banyak luka. Namun anehnya, luka itu tak berdarah. Hanya saja perihnya masih terasa hingga kini sekalipun kejadian itu sudah berlangsung beberapa tahun yang lalu, bahkan hubungannya dengan si orang ketiga pun sudah kandas beberapa bulan setelah hatiku dibuat hancur karenanya.

Sejak saat itu, aku berjanji pada diriku sendiri untuk tak lagi mengenal yang namanya ‘pacaran’. Aku berjanji pada diriku, untuk tak lagi terjebak cinta yang semu. Lalu ku biarkan hatiku jadi es batu.

Kau sosok yang dingin atau hangat? via pexels

Di saat hati itu telah memilih untuk jadi es batu, pilihannya hanya dua : dipertemukan dengan yang sama-sama telah jadi es batu lalu keduanya secara lambat laun akan mencoba cair dengan sendirinya, atau dipertemukan dengan sang mentari yang membantu mempercepat proses pencairannya.

Sejujurnya jika aku bisa memilih, aku akan memilih untuk dipertemukan dengan pilihan yang kedua, yakni dipertemukan dengan sosok yang dapat berperilaku sebagai Sang Mentari. Sekalipun tak sama, namun Ia mampu melengkapi dan membantu proses percepatan pencairan hatiku.

Oleh Fitri Kinasih Husnul Khotimah

Aku adalah sepenggal diksi yang siap kau jadikan puisi.

Satu tanggapan untuk “Saat Hatiku Sudah Menjadi Es Batu, Mampukah Kau Menjadi Sosok Mentari yang Mempercepat Proses Pencairannya?”

Tinggalkan Balasan