Sebuah Mimpi Merdekanya Jatiwangi yang Didukung Wabup Majalengka, dan Nasib Pabrik Genteng

Sebuah Mimpi Tentang Merdekanya Jatiwangi, yang Didukung oleh Wabup Majalengka, dan nasib Pabrik Genteng foto Ahmad Sujai.

besoksenin.co – Konon syarat mewujudkan kenyataan adalah dengan memimpikannya; barangkali, Wright bersaudara tidak akan pernah membuat pesawat terbang jika mereka tidak pernah memimpikannya. Barangkali, yang membuat Alexander the Great atau Gengis Khan terus maju, adalah karena mereka memimpikan menyatukan dunia di bawah kakinya. Segala hal ada di dunia ini, ada karena seseorang pernah memimpikannya. Lalu mimpi apa tentang merdekanya Jatiwangi? Sudah berapa banyak gagasan dan event-event yang dibuat yang alih-alih ingin menyelamatkan, namun nasib Pabrik Genteng masihlah stagnan? Mengapa masih ada yang mendukung dan gigih memperjuangkan, termasuk Wabup Majalengka?

“Saya hadir di sini, bukan sebagai pemerintahan atau Wabup Majalengka,” Itulah kalimat pertama dari Tarsono D. Mardiana, dalam sambutan acara bakar pertama Posyandu Terakota, yang diselenggarakan hari minggu 12 April kemarin. Kegiatan bakar pertama Posyandu Terakota ini dilakukan sederhana, hanya do’a bersama yang dipimpin oleh Ustad setempat, lalu para tokoh yang hadir satu-persatu melempar kayu bakar. Dikumaha-kumaha oge, Jatiwangi teh sudah memberi tanda pada Majalengka, Jatiwangi sudah membangun peradaban kota.“ Ya, Jatiwangi telah memberi tanda. Buktinya saja, alun-alun Majalengka. Kebudayaan terakota di Indonesia sudah ditandai sejak zaman pra-sejarah, lalu tumbuh pesat ketika Majapahit berkuasa di negeri ini, hal ini bisa dibuktikan melalui situs-situs terakota yang menyebar dan dapat ditemukan di beberapa kota di Indonesia. Lebih jauh lagi, kebudayaan terakota sebenarnya sudah ada secara global, dari India hingga ke kawasan Asia Timur. Namun, baru Majalengka yang berani mengklaim sebagai kota terakota, hanya karena ada kebudayaan mengolah tanah di Jatiwangi, yang ditandai dengan eksisnya Pabrik Genteng atau Jebor.

Kebudayaan mengolah tanah di Majalengka sudah dimulai sejak era kolonial Belanda, pengrajin bata bermunculan di seluruh pelosok kota. Rumah-rumah yang tadinya terbuat dari bilik bambu, tiba-tiba sudah menjadi usang dan tidak keren lagi, lahir trend baru rumah yang terbuat dari bata. Di Jatiwangi Raya sendiri, mereka mulai membuat genteng sejak 1905, dibawa oleh H. Umar bin Ma’ruf dari Babakan Jawa Majalengka. Era kejayaan Pabrik Genteng adalah ketika orde baru, di mana pembangunan yang masif di seantero negeri, berbanding lurus dengan kebutuhan genteng. Pabrik Genteng Jatiwangi memasuki zaman kegelapan, dimulai dengan krisis ekonomi pada 1998 yang membuat pembangunan melambat. Lalu adanya material baru untuk atap rumah, seperti asbes dan baja ringan, juga ikut andil dengan menurunnya pabrik genteng di Jatiwangi. Satu dekade kemudian, mereka dihajar oleh kesulitan mencari SDM, bekerja di Pabrik Genteng dianggap tidak keren lagi, terutama sejak hadirnya pabrik-pabrik modern. Pada era ini, pemesanan genteng menurun signifikan, satu per-satu jebor bertumbangan.

Melihat kebudayaan mengolah tanah yang kian terancam, membuat Ila Syukrila tergerak untuk melakukan sesuatu, ia tidak hanya ingin diam dan menonton kehancuran. Ila terus berupaya, ia membuat Binaraga Jebor, hingga museum genteng Jatiwangi. Ila berangkat ke India, Korea, juga kota-kota di Indonesia, demi menggalang kekuatan.

Sudah banyak sekali gagasan dan event keren dengan dalih menyelamatkan Pabrik Genteng di Jatiwangi, namun semua itu hingga saat ini nyaris tak memberikan pengaruh apa pun ke Pabrik Genteng itu sendiri.

Sebenarnya, harapan para pelaku industri genteng melambung tinggi setelah adanya ICCB, bagaimana sebuah perjuangan dengan kesadaran identitas yang dikomandoi JaF bisa memengaruhi kebijakan sebuah kota, bahkan rencana pembangunan yang sebetulnya sudah ada, direvisi, diganti dong. Ridwan Kamil ditarik, selanjutnya bisa ditebak, kalau atasan sudah berbicara begitu, Bupati Majalengka hanya bisa manggut-manggut. Genteng Jatiwangi memasuki babak baru lagi.

“Jatiwangi harus menambah menu baru seperti ubin hias, dekorasi, bata ekpos, dan aneka produk terakota lainnya,” Kira-kira begini ucapan Ridwan Kamil waktu itu, Gubernur Jawa Barat ini mendeklarasikan diri Majalengka sebagai Kota Terakota, tidak hanya kata-kata belaka, waktu itu ia mengatakan akan membangun alun-alun Kota Majalengka dengan nuansa terakota sebagai bentuk manifestasinya. Pernyataan itu disambut tepuk tangan meriah dan sorak sorai. Akhirnya, Majalengka kota yang selama ini biasa-biasa saja, akan menjadi kota yang berciri khas, berkarakter, dan bisa meninggalkan kesan bagi siapa pun yang mengunjunginya, lewat aksen terakota.

Di lain pihak, ini adalah harapan baru bagi para pelaku industri Pabrik Genteng. Mereka bisa saja menjawabnya dengan balik bertanya seperti; “kalau kami membuatnya, lalu ke mana kami akan menjualnya?” Dan itu sudah dijawab, Pemerintah menyiapkan pasarnya juga, yaitu gedung-gedung pemerintahan yang harus ada unsur terakota. Tetapi karena satu dan lain hal, tawaran baru ini tidak ditanggapi serius, ternyata ini belum cukup. Ironisnya, pada proyek pembangunan alun-alun, industri lokal belum siap, dan sebagian besar material justru diambil dari Purwakarta. Masa depan pabrik-pabrik Genteng di Jatiwangi yang masih bertahan, belumlah cerah.

Pun dengan Ila, ia dan teman-teman sudah banyak sekali membuat program-program yang buat untuk membuat pabrik genteng bisa bertahan, namun ia melupakan unsur fundamental, yaitu ekonomi. “Sudah cukup kita ngomongin tentang gagasan bertahun-tahun ini, sekarang saya ingin fokus pada ekonominya. Kebudayaan membutuhkan ekonomi untuk bertahan,” tukas Ila.

Posyandu Terakota doc Ahmad Sujai

Ila berharap, dengan membuat produk terakota yang berkarakter, dan bisa menawarkan hal lain. “Selama ini, konsumen hanya memesan karena produknya, tidak tau ini dari mana, siapa yang punya, yang penting kebutuhan dia dalam membuat rumah terpenuhi. Artinya, produk kita bisa dibuat di mana pun oleh siapa saja. Tidak perlu dibuat di atau oleh orang Jatiwangi.”

Ini bisa saja menjadi perulangan 1905, barangkali dahulu mungkin ada satu pabrik genteng yang berhasil sukses, lalu yang lainnya ikut-ikutan. Yang dibutuhkan masyarakat Jatiwangi ini saat ini adalah contoh, Ila yakin jika ada satu saja yang berhasil dengan produk terakota, maka yang lainnya pun tidak akan sulit. Mimpi Ila sederhana, ia ingin masyarakat Jatiwangi pergi ke jebor lagi, meneruskan tradisi mengolah tanah liat. Sehingga menaikan daya tawar. Kalau pabrik-pabrik modern tetap berdiri di sini, maka minimal masyarakat Jatiwangi lebih dihargai dan diperhatikan kesejahteraannya.

1 komentar untuk “Sebuah Mimpi Merdekanya Jatiwangi yang Didukung Wabup Majalengka, dan Nasib Pabrik Genteng”

  1. Ping-kembali: Jangan-Jangan Kebudayaan Jatiwangi Bukanlah Genting? » besoksenin.co

Komentar ditutup.