SENJA

besoksenin.co – Zami menelusuri koridor kampus dengan setengah berlari, sambil sesekali melihat jam. “Masih sempatkah? Masih sempatkah?” gerutunya dalam hati. Suasana kampus sudah sangat lengang, kursi-kursi sudah tersusun rapi kembali, pintu-pintu kelas terkunci rapat, lampu-lampu mulai dinyalakan, di lantai dua gedung rektorat itu tinggal menyisakan dirinya karena dihari ini hanya sedikit kelas yang punya jadwal kuliah. Meskipun begitu sampai petang ini ada beberapa orang yang masih melakukan kegiatan tambahan seperti ekstrakulikuler mahasiswa, atau rapat-rapat rutin UKM di tempat yang berbeda-beda. Dia bergegas menuruni tangga menuju lobi, dan untuk ke-empat kalinya dia melihat pergelangan tangannya “Sial sudah setengah enam” gerutunya lagi dalam hati.

Senja via Pexels

Sebenarnya sudah dari jam tiga sore dia siap untuk bertemu Yumna kekasihnya, tapi mendadak ada telpon dari dosen pembimbingnya “Zami, kamu sekarang ke ruangan saya ya, ada kesalahan pada…” tiba-tiba ponselnya mati seketika, kemudian dia melihat layar ponselnya “Batrainya habis lagi” gerutu Zami sambil menepuk jidatnya. Setelah memasukkan ponsel ke sakunya, dia pun langsung bergegas lari ke ruangan dosen pembimbingnya dan tanpa disadari rencana untuk bertemu dengan kekasihnya pun terlupakan seketika.

“Halo mi, kita jadi kan ke restoran sore ini?” tanya Yumna, mengkonfirmasi.
“Jadi dong, kan ini hari spesial buat kita. Jarang-jarang lho kita bisa ngerayain bareng” jawab Zami.
“Kamu sih, selalu sibuk sama kerjaan dan kuliah kamu” jawab Yumna sedikit menyindir.
“Iya maaf Sayang, ini juga aku lakuin buat masa depan kita nanti. Sebagai gantinya nanti aku ada surprise buat kamu” rayu Zami.
“Harus ada” jawab Yumna manja.
“Siap komandan” seru Zami.
“Komandan apaan?” tanya Yumna bingung.
“Komandan hati. Bye, see you” jawab Zami menutup percakapan.

Senyuman pun tersimpul di bibir Yumna seraya mendengar kalimat itu. Zami selalu seperti itu kepada kekasihnya, romantis, atau lebih pantas disebut gombal? Tidak apa, itu bukan sifat buruknya, yang penting dia bisa menyimpulkan senyum di bibir Yumna.

Hari ini tanggal 11 Januari, genap satu tahun, dua belas bulan, atau 365 hari (terserah kalian mau menggenapkannya seperti apa) mereka pacaran. Seperti remaja-remaja tanggung kebanyakan, mereka pun merayakan anniversary. Ya, 11 Januari, tanggal yang bagus untuk dijadikan tanggal anniversary, karena tanggal itu jadi judul lagu salah satu band ternama Indonesia, Gigi. “Biar setiap tanggal 11 Januari, anniversary kita, aku nyanyiin lagu itu buat kamu” ungkap Zami sehari setelah mereka pacaran. Maka dari itu, sore ini akan menjadi hari yang spesial untuk mereka berdua, dan harus benar-benar menjadi hari yang spesial.

“Ya ampun na, buru-buru banget sih. Ini kan masih jam satu, masih dua jam lagi” kata Debi dengan nada kesal.
“Kan lu tau ini hari spesial gue deb, persiapannya juga harus dua kali lebih lama dari biasanya” jawab Yumna sambil mematut-matut baju di depan cermin.
“Iya deh” Debi mengalah, sambil kemudian menunjukan sebuah long dress berwarna jingga “Long dress yang ini ada warna lain ngga na?” tanya Debi. “Aah, itu dress yang paling tepat” sambil sedikit berseru girang menemukan apa yang dia butuhkan untuk hari spesial ini.
“Lu yakin mau pake dress yang ini aja? Warnanya agak mencolok lho” Debi mengungkapkan opininya.
“Justru ini warna yang paling tepat deb” jawab Yumna sambil genit mengedipkan sebelah matanya.

Jam 17.30 sore, sudah lewat tiga jam dari waktu yang mereka sepakati. Yumna masih duduk di kursi restoran tepat pinggir jendela, itu merupakan tempat favorit mereka, karena dari situ mereka bisa melihat pemandangan pantai yang indah. Dari balik jendela restoran itu, angin pantai menerobos masuk menyejukkan, ombak berlipat menyapa, dan lambaian dari pohon kelapa yang diterpa angin seakan mengundang untuk mendekat, tapi mereka cukup dengan melihatnya saja, melihatnya bersama. Tapi sekarang Yumna hanya sendiri menunggu Zami datang sejak tiga jam yang lalu, puluhan panggilan suara sudah dia coba untuk menghubungi kekasihnya, tetapi percuma tak ada satupun yang dijawab. Meskipun begitu dia yakin bahwa Zami akan datang, entah keyakinan itu bakal berbuah manis atau sebaliknya, mengecewakan. Dia pun melihat pergelangan tangannya untuk yang kesekian kali, 17.45 matahari hampir meninggalkan pandangan dan Yumna beranjak pulang.

Tiba-tiba pintu restoran terbuka dan suara hentakan kaki mendekati Yumna yang hendak pergi. “Ah, sunset! Tepat sekali aku datang” sahut Zami sambil berlutut mengatur nafasnya. “Tepat tiga jam lima belas menit dari perjanjian” Yumna menjawab dengan nada kesal seraya kembali duduk.
“Maafin aku ya, udah buat kamu nunggu selama itu” Zami merasa bersalah.
“Tiga jam bukan waktu yang lama dibandingkan dengan tiga tahun aku memendam rasa sama kamu dulu” sindir Yumna.

Love sunset via Pexels

Yumna memang sudah menyukai Zami sejak kelas satu SMA, meskipun dia tidak pernah berani mengungkapkan ataupun hanya mencoba mengajak berkenalan terlebih dahulu. Dia mengaguminya dari jauh dengan tulus dan keyakinan yang kuat bahwa suatu saat jika memang mereka ditakdirkan untuk bersama, Tuhan akan pertemukan mereka di suatu kesempatan yang tak pernah mereka duga. Dan di acara malam kelulusan sekolah, Tuhan menjalankan skenarionya. Saat itu malam sudah larut, para siswa yang sudah lelah berteriak, menyanyi, menari, bahkan menangis bersama. Yumna masih menggerutu di depan gerbang sekolah karena Ayahnya tidak bisa datang menjemput, dan baginya akan sangat menyebalkan bila harus menunggu angkutan umum malam-malam seperti ini. “Hei, Yumna kan? Yang tadi baca puisi” sapa seseorang kepada Yumna. Ketika dia mencoba memalingkan wajahnya dan menemukan sosok pria itu, sontak dia kaget dengan sedikit meloncat mundur. “Zami” teriak Yumna dalam hatinya.

“Kenalin, aku Zami” sambil mengulurkan tangannya Zami memperkenalkan diri. Yumna masih terpana tanpa suara. “Kau tak perlu mengenalkan dirimu, siapa yang tidak kenal Zami di sekolah ini, siswa tampan yang menjadi vocalist band sekolah dan juga best player turnamen bola basket nasional pasti dikenali hampir semua orang di sekolah” katanya dalam hati. Sambil sedikit gemetaran Yumna mencoba menjabat tangannya, “Yumna”. “Puisi kamu tadi bagus banget, aku suka” puji Zami. “Terima kasih” jawab Yumna dengan pipi yang memerah.
“Kamu butuh tumpangan ya? Kalau mau aku antar naik motor, kebetulan aku sendirian juga” Zami menawarkannya tumpangan. Yumna hanya terdiam dengan muka masih keheranan, dan kemudian Zami pun membawa motornya ke depan gerbang, “Ayo naik!”. Dengan wajah kikuk Yumna pun naik dan mereka pulang bersama. Itulah perkenalan pertama mereka, hingga dua bulan kemudian mereka memutuskan untuk menjalin sebuah hubungan.

“Maafin aku ya, tadi tuh…” belum sempat menyelesaikan penjelasannya Yumna sudah memotong, “Aku nggak butuh penjelasan dari kamu karena aku percaya sama kamu. Kamu ada suatu urusan yang nggak mungkin ditinggal kan? Dan aku gak perlu tau soal urusan itu yang penting sekarang kamu sudah ada di depan mata aku dengan nafas yang masih susah kamu atur dan keringat yang masih mengucur, haha. Nampaknya kamu lari dari kampus kesini? Luar biasa, itu sudah menunjukkan kalau kamu tidak lupa dengan janji kita dan berusaha untuk menepatinya, meski waktu datangnya sama sekali tidak tepat”.

Zami menghembuskan nafas panjang sambil sedikit jengkel dengan sindirannya dan kemudian mencoba menatap Yumna dengan senyuman bahagia. Yumna pun mengambil selembar tissue kemudian mengeringkan keringat di wajah Zami, “Kamu tau nggak kenapa aku pake dress dengan warna seperti ini?” tanya Yumna. “Mmm, nggak. Memang kenapa?” Zami balik bertanya. “Karena aku ingin memalingkan wajahmu dari senja yang indah itu, aku ingin jadi titik fokusmu” jawab Yumna mengungkapkan maksud dari dress yang dia pakai. Zami pun hanya tersenyum dengan menatap lurus ke mata Yumna seraya berkata, “Padahal kamu tidak perlu memakai dress yang senada dengan langit senja karena matamu sudah mencerminkan semuanya, bahkan rangkaian matahari yang mulai tenggelam dan awan yang menjingga pun seakan malu sebab kamu lebih elok dari mereka”. Setelah kalimat itu keluar mereka saling tatap dengan senyuman masing-masing tanpa sepatah kata apapun hanya hatinya yang saling merasakan betapa bahagianya mereka saat itu.

Editor: Riksa Buanadewi

66 komentar untuk “SENJA”

  1. “Thank you for this article. I would also like to say that it can end up being hard while you are in school and merely starting out to create a long history of credit. There are many students who are merely trying to make it and have a long or beneficial credit history are often a difficult thing to have.”

  2. Very nice post. I just stumbled upon your blog and wanted to say that I have really enjoyed browsing your blog posts. After all I will be subscribing to your feed and I hope you write again soon!

  3. aso keyword cannibalization

    Wow! This can be one particular of the most helpful blogs We have ever arrive across on this subject. Basically Wonderful. I am also a specialist in this topic so I can understand your hard work.

  4. cro cannibalisation

    It is my opinion other website proprietors ought to choose this blog being an model,really cool great straightforward style,Too since information.You are an expert inside this subject!

  5. "join now to promote your business, find partners, build relationships and reconnect with community. sync with facebook twitter email sms and more"

    Just Browsing While I was browsing today I noticed a great article about

  6. you are really a good webmaster. The website loading speed is amazing. It seems that you are doing any unique trick. Also, The contents are masterpiece. you have done a excellent job on this topic!

Tinggalkan Komentar