Terimakasih Cinta. Kini, Aku Hanya Sebuah Cerita

menikmati kejombloan via pixabay

besoksenin.co – “Kenapa?” tanyaku sambil mengelus cangkir kopi di tangan kananku.
Ia hanya diam termenung melihat rintik hujan melalui jendela kaca di sampingnya, seakan ada masa depan di sana. Aku tak kembali bertanya. Karena takut mengganggu keseriusannya.

Dia menghembuskan nafas panjang yang mengisyaratkan berat baginya untuk menjawab tanya di wajahku. Nafasnya menusuk jantung. Aku memalingkan wajah, pura-pura tidak tahu maksudnya.

“Pokoknya dia yang salah,” batinku membela. Tak ada rasa berani dalam diriku, untuk mengungkapkan langsung kepadanya. Tak apa, mungkin secapatnya dia menyadari kesalahannya, Semoga.

Kami pun duduk mematung di tengah riuh tawa hujan. Satu cangkir kopi dengan aroma yang begitu wangi, tak mampu untuk menenangkan hati.  kemudian aku pun memilih untuk meninggalkan kursiku. Kini giliranku yang menghembuskan nafas panjang. Jangan tanya kenapa, aku yakin kalian pasti peka.

peka via pexels

“Apa yang kupikirkan?” Aku tidak habis pikir dengan tingkahku barusan. Atau mungkin sebenarnya aku tahu. Aku hanya tidak mau terima.

Aku kira dia akan menahan kepergianku. Ternyata tidak. Akhirnya aku berhenti hanya sekian langkah dari kursiku. Kursi kita kosong.

“Mungkin sekarang sudah saatnya aku berhenti mengajak bayangmu bicara, di tempat terakhir kita bertemu,” ucapku sambil meraih sebuah obat yang katanya bisa menenangkan lebih lama dari selamanya.

Terimakasih sempat memberi hidupku warna yang begitu bahagia. Sampai jumpa disana.

 

Editor : Riza D. Januar

Aryanda Rega

Pria yang lebih memilih ditinggal lagi sayang-sayangnya, daripada ngilangin taperwer si mamah.

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan