Ternyata Ini 5 Alasan Logis Mengapa Ayahmu Sering Bilang: Kamu Harus Lebih dari Ayah, Nak

besoksenin.co – Apa yang kamu ingat dari nasihat hebat seorang ayah? “Nak, jangan pulang malam-malam”, “Kamu main dengan siapa? Ada buat uang jajannya?”, ataukah “Nanti kalau sudah besar, cita-cita kamu mau jadi apa, nak?”?

Namanya juga ayah. Sosok superhero pertama buat anak laki-laki juga sosok cinta pertama buat anak perempuan. Nasihatnya memang terkadang aneh-aneh dan bikin kzl. Tapi, di balik itu semua, nasihatnya manjur! Apalagi kalau ayahmu sudah bilang, “Kamu harus lebih dari Ayah, nak”. Berasa langit-langit rumah runtuh dan membebani, seolah menjadi beban yang berat.

Tapi, percayalah. Ayahmu tak sekadar bernasihat. Ada alasan logis mengapa setiap ayah sering bilang begitu.

Bercengkrama dengan Ayah via pexels

1. Tak Mau Anaknya Menderita di Masa Depan. Cukup Ayah Saja

Pengalaman yang berbicara. Ayah ketika kecil dulu, membangun semuanya dengan kerja keras dan ada saja hal yang dikorbankan. Mungkin beberapa ayah mengalami ini; makan sehari-harinya hanya satu butir telur yang dibagi dengan tiga atau empat adiknya. Dengan nasi yang sudah dingin, tak seperti sekarang. Bisa dihangatkan dengan pemanas nasi.

“Kamu harus lebih dari ayah, nak. Jangan mau menderita seperti ayah di masa lalu.”

Kamu Harus Lebih Dari Ayah via pexels

2. Seiring Berkembangnya Zaman, Persaingan Akan Semakin Berat dan Kamu Harus Kuat!

Tak bisa menutup mata, tengok saja pembangunan yang marak di Majalengka. Infrastruktur jalan raya, pembangunan bandarudara, ataupun sekadar bunderan. Artinya, peluang akan semakin besar kalau kamu kuat menghadapinya. Sebaliknya, kalau kamu lemah, persaingan itu malah akan membuatmu susah. Kamu harus kuat dari detik ini!

“Kamu harus lebih dari ayah, nak. Suatu saat, tempat yang kita singgahi akan menjadi besar. Persaingan akan semakin berat dan kamu harus kuat!”

3. Kamu dan Ayah Berbeda Derajat Pendidikannya. Kamu Disekolahkan, sementara Ayah Tidak. Kamu Harus Cerdas dan Menjadi Kebangaannya!

Nampaknya kita sepakat kalau setiap ayah setidaknya pernah menceritakan masa kecilnya. Jangankan pendidikan, ayah juga kesulitan setiap kali ia membaca atau belajar. Pasalnya, penerangan dulu hanya mengandalkan lampu cemprong.

Ayah hanya lulusan pendidikan yang rendah. Ah, maklum saja. Kondisi orang tua zaman dulu alakadarnya. Sehingga wajar. Tidak seperti anak zaman sekarang yang bahkan seorang ayah sanggup membiayai walaupun menghutang. Ini masalah ayah. Kamu tinggal belajar yang benar dan berprestasi.

“Kamu harus lebih dari ayah, nak. Karena kamu ayah sekolahkan sampai tinggi, sementara ayah tidak. Walaupun tak bisa menghadirkan piala untuk mengisi kekosongan lemari di rumah, bisakah kamu untuk tetap menjadi kebanggaan ayah?”

Genggaman Tangan Ayah via pexels

4. Kamu adalah Penerus Ayah Kelak. Pewaris Segalanya! Santunlah kepada Keluarga

Ayah sering bernasihat kalau masa depan milik anak-anaknya; nanti, kamu akan menjadi pewarisnya. Agar semua bisa tetap bangga kepada ayah, buatlah ayah bangga padamu. Karena ketika suatu saat kamu akan mendapati kesulitan, keluargalah yang akan pula membantu kamu pertama kali.

“Kamu harus lebih dari ayah, nak. Lihatlah, ayah sudah keriput. Kalau ayah sudah tiada, keluargalah yang nanti akan menjadi nomor satu yang membantu kamu. Seperti ayah sekarang, ketika ayah dalam keadaan susah, keluarga menjadi yang utama.”

Bersama Ayah di Sore Itu via pexels

5. Kamu Harus Menjadi Orang yang Bermanfaat Lebih Banyak. Buatlah Cerita Baikmu untuk Masa Depanmu

Selalu berlaku baik kepada orang banyak. Begitupun bermanfaat bagi sesamanya. Bukankah sebaik-baik manusia adalah manusia yang bermanfaat? Karena dari sana, kamu akan mendapatkan banyak hikmah dan pelajaran yang akan kamu bagikan ke keluarga kecilmu kelak bersama anak-anakmu.

“Kamu harus lebih dari ayah, nak. Kamu harus berlaku baik dan menjadi orang yang bermanfaat. Dari sekarang sampai ketika ayah masuk di liang lahat. Dari sana, kamu masih bisa berlaku baik untuk ayah. Misalnya, memanggul mayat ayah kelak. Kebaikan memang tak memandang waktu.”

Semoga bermanfaat dan menambah semangat kamu untuk menjadi baik!

(Fakhrul Azharie)

Tinggalkan Komentar