Kategori
besokbaper kontribusi rubrik

Walau Tak Bisa Hidup Tanpa Cinta, Bukan Berarti Harus Selalu Terpuruk di Dalamnya. Mencintai Diri Sendiri Ternyata Lebih Baik

besoksenin.co – Aku menutup bab itu dan coba membuka bab baru. Cukup satu judul bab dengan empat belas bagian sub-bab kuakhiri. Jika tuhan menghendaki, masa depanku masih puanjang. Akan banyak udara yang harus kuhirup dan kuhembus. Akan banyak hari yang harus kulewati. Akan banyak kebahagiaan yang harus kuresapi. Akan banyak rintangan dunia yang harus kupeluk dengan ikhlas.

Hari-hariku via pexels

Hidupku tak berotoritas pada petuahnya. Otakku tak semestinya membelai mesra namanya. Hatiku tak boleh melulu dimabuk kekaguman atas cara berpikirnya. Sehingga, kuanggap dirinya dewa, malaikat, dan neo Cortex dalam otakku penuh dengan tiga kata yang secara konstan terulang; dia, dia, dia.

Aku tak begitu paham pengaruh sosok dia bagi organ sensitifku. Ya, organ itu adalah hati, yang peka akan kerapuhan. Aku pula tak begitu paham perasaan yang berkecamuk setelah mengenalnya. Yang aku paham, kebodohan pada akhirnya menyelimutiku, dan aku dibuat nyaman sekaligus tak nyaman olehnya.

kebodohan pada akhirnya menyelimutiku, dan aku dibuat nyaman sekaligus tak nyaman olehnya

Sudah kubilang pada salah satu sub-bab hidup, dia energi positif dan negatif bagiku. Mengaguminya membuatku ditinggikan untuk dijatuhkan sekeras-kerasnya. Mengenalnya membuatku jatuh untuk bangkit kembali.

Aku tidak berani melabeli perasaan dengan cinta. Aku takut itu benar. Aku takut benar-benar jatuh cinta. Padahal, jiwa ini masih bimbang dengan definisi dan makna yang sebenarnya. Perlukah cinta berdefinisi? Ya, sangat perlu. Aku ingin paham definisi yang sebenar-benarnya, sesaklak-saklaknya. Begitupun dengan praktik cinta yang sesuci-sucinya. Agar aku tidak kehilangan arah, agar aku tidak salah dalam memprioritaskan cinta di kehidupan.

Aku tidak berani melabeli perasaan dengan cinta. Aku takut itu benar. Aku takut benar-benar jatuh cinta.

Aku sempat tenggelam dalam bait-bait pikiran dia yang tak terjamah, hasil pencarian jati dirinya yang sedikit tercium, serta kekritisan ocehannya yang berbuah pengetahuan. Bagiku, tenggelam tak pernah menjadi suatu hal yang baik, malah sering disebut-sebut sebagai sebuah kecelakaan. Pun tenggelamnya aku adalah kecelakaan. Namun, akhirnya mengorek banyak pelajaran yang seiris demi seiris kucoba perdalami.

Bodoh

Menjadi orang lain, membenci diri sendiri, selalu ingin dilihat baik olehnya, rasa malu yang berkepanjangan ketika aku berbuat bodoh di depannya, dan rasa takut jika dirinya menganggapku remeh. Hal-hal negatif itulah yang ku tuai. Karena, aku menyukaimu, sayang.

Tenggelam dalam bait pikiran via Freestocks

Semua kenegatifan itu luber ke sana ke mari. Tiba-tiba, kesepian melandaku, kesendirian menjadi tutorialmu yang aku serap dan tiru. Berharap dengannya aku bisa mendapat jawaban akan jati diriku juga. Tiba-tiba, aku lupa bersyukur. Aku lupa punya Tuhan yang selalu bersamaku.

Kesepian, membuatku terpuruk. Aku butuh teman hidup, sedang teman hidupku yang lain asyik dengan dunia mereka. Kemana lagi aku harus memuntahkan kesedihanku? Tiba-tiba (lagi) aku merasa diri tidak berguna, tiada yang peduli lagi denganku, aku merasa yang paling banyak punya masalah, dan merasa menjadi manusia yang paling menyedihkan

Bernasib sama, kah? via Pinterest

Oke, aku melantur. Jika saja aku tak pernah menyecap iman, mungkin nasibku seperti Jonghyun Shinee. Karena, saat diriku sedang terpuruk dalam kesepian, kasus bunuh diri Alm. Jonghyun muncul dan membuatku termenung lama. Tidak, aku masih hidup sekarang. Aku masih punya banyak alasan untuk hidup, dan akan selalu punya. Perjalananku menyicip dunia belum selesai. Eh, bahkan dimulai pun belum.

Kini, efek menyukai dirinya sudah kuobati. Terimakasih atas diriku yang mau mencari cara untuk bahagia, untuk kembali bersyukur pada-Nya. Terimakasih atas sikap bodo amatku yang membasmi sifat ‘ingin dipandang orang lain’. Terimakasih atas diriku yang punya tekad untuk menghilangkan kesepian dan move on dari men-dewa-kan dia yang tak pernah melirikku.

Terimakasih atas diriku yang punya tekad untuk menghilangkan kesepian dan move on dari men-dewa-kan dia yang tak pernah melirikku.

loving myself, healing myself, making memories via pexels

Tanpa Cinta?

Kita memang tidak bisa hidup tanpa cinta, kasih sayang. Tapi, kita juga tidak bisa selalu terpuruk dalam cinta yang salah. Fitrahnya manusia, mengagumi seseorang (lawan jenis) lalu berbuah cinta. Cuma, jangan sampai hidup jadinya dikendalikan oleh seseorang yang ‘katanya’ kita cinta, padahal kita sadar bahwa dia tidak pernah menganggap kita berarti.

Love yourself, babe. But don’t too much. Aku dulu bukan orang yang mencintai diri sendiri, tapi ternyata sangat penting untuk mencintai diri sendiri. Dengan itu, kita punya otoritas akan diri, rohani dan jasmani, lahir dan batin. Segala aspek dari luar yang bakal membuatmu tenggelam dalam kegelapan, otomatis kamu akan lawan. Karena, kamu telah mencintai dan menghargai dirimu. Udah segitu aja.

Tulisan ini merupakan kiriman dari Sobat bsco, Arabinosa.

Mau tulisan kamu dimuat juga? silakan kirim ke, redaksi@besoksenin.co

Oleh Fakhrul Azharie

ke sana ke mari membasmi kejahatan

37 tanggapan untuk “Walau Tak Bisa Hidup Tanpa Cinta, Bukan Berarti Harus Selalu Terpuruk di Dalamnya. Mencintai Diri Sendiri Ternyata Lebih Baik”

You have made some decent points there. I checked on the net for additional information about the issue and found most individuals will go along with your views on this web site.

Thank you for another excellent post. The place else could anyone get that type of info in such an ideal method of writing? I have a presentation subsequent week, and I am at the search for such info.

"this is a security check to prevent automated programs from creating accounts." "connect via one of these sites." "send me news and updates"berkomentar:

This blog is without a doubt interesting as well as diverting. I have found a lot of helpful things out of this source. I ad love to come back again soon. Thanks!

Tinggalkan Balasan